Indonesia kembali berduka. Ditengah situasi muram dan prihatin beberapa waktu belakangan ini, seorang wanita bersahaja berpulang ke Rahmatullah. Ya, hari ini, Rabu, 25 Maret 2020, Sujiatmi, yang tak lain adalah Ibunda Presiden RI ke – 7, Joko Widodo telah wafat. Dalam usia 77 tahun.
Semua merasa terkejut. Dan tentu saja sangat berduka. Berita berpulangnya sang Ibunda Presiden terkesan tiba-tiba. Tidak ada kabar berita sebelumnya. Namun, hidup dan mati seseorang memang rahasia Khalik Sang Kuasa. Tak seorang pun yang mampu mengetahuinya. Kapan akan dipanggil untuk kembali keharibaan-Nya.
Memahami konteks dan fenomena Presiden Joko Widodo tentulah tidak bisa dipisahkan dari keberadaan sang ibunda. Yang dalam adagium sosial dikenal sebuah pepatah bijak. Dibalik sosok luar biasa seorang anak, tentulah ada seorang Ibu yang tak kalah luar biasa.
Itulah Sujiatmi. Sang ibunda Joko Widodo. Ibu yang telah berhasil menggembleng, membangun karakter sekaligus mendidik Jokowi. Hingga kemudian sejarah mencatat sang putra sulungnya menemukan takdir garis tangannya. Menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI, hingga pemimpin tertinggi di Indonesia (Baca: Presiden RI).
Mengutamakan Pembangunan Karakter
Pepatah bijak mengatakan. Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Barangkali ungkapan itu yang paling tepat untuk menggambarkan kesamaan karakter Sujiatmi dan Presiden Joko Widodo. Bila kita melihat sikap kebersahajaan seorang Presiden RI. Yang notabene merupakan orang nomor satu di republik ini.
Sujiatmi bersama sang suami, Notomihardjo memang sejak awal telah menggembleng anak-anaknya. Untuk selalu hidup bersahaja. Keluarga Jokowi sudah tak berbilang mengalami keras dan pahitnya hidup. Penuh perjuangan dan sarat pengorbanan. Berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya.
Meskipun serba terbatas, namun didikan Sujiatmi selalu keras tanpa kenal kompromi. Penuh dengan nilai moralitas. Sujiatmi senantiasa menekankan prinsip perilaku jujur di segala bidang. Sujiatmi melarang keras kepada Jokowi dan adik-adiknya agar tidak mengambil milik orang lain. Sesuatu yang bukan hak pantang diambil dan dimanfaatkan.
Selain jujur, Sujiatmi juga mendidik Jokowi agar selalu bersahaja. Bersikap apa adanya. Tidak pula membeda-bedakan seseorang atas dasar status dan latar belakangnya. Pahitnya hidup di bantaran sungai dan berkali – kali harus berpindah, membuat Sujiatmi selalu meminta Jokowi untuk selalu welas asih kepada wong cilik. Orang-orang miskin dan tak berpunya.
Refleksi dari ajaran Ibundanya sangat nyata. Tengok kesederhanaan sang Presiden. Mulai dari cara berpakaian, sikap hangat yang jauh dari kesan protokoler, hingga keakraban serta kedekatan dalam berinteraksi dengan masyarakat banyak. Sungguh jauh dari kesan angker, glamour dan berjarak. Sebaliknya, pembawaan Presiden Joko Widodo identik dengan sikap yang kalem, sopan, santun, sederhana, dan pekerja keras.
Karakter di atas memang duplikasi dari sang Ibunda, Sujiatmi. Seorang wanita desa pekerja keras. Senantiasa membantu suaminya dalam menjalankan usahanya. Hal itu tercermin dari partisipasi sang Ibunda. Dalam mendukung kegiatan usaha kios jual beli kayu dan bambu sang suami di masa lalu. Ya, Sudjiatmi tak hendak berpangku tangan atas usaha penjualan kayu suaminya. Sujiatmi tak segan turun langsung melayani pembeli. Membawa bahkan seringkali membantu mengangkut kayu dan bambu. Yang tentu saja cukup berat dari sisi ukuran untuk seorang wanita. Namun itulah Sujiatmi. Seorang wanita pekerja keras pantang menyerah. Demi keluarganya. Suami dan anak-anaknya.
Mengharuskan Pendidikan
Lahir di Boyolali, 15 Pebruari 1943, Sujiatmi menyadari sepenuhnya refleksi kehidupannya. Bahwa upaya untuk bisa mengubah garis nasib hanya bisa dilakukan melalui pendidikan. Jalur – jalur menuju kehidupan yang mapan dalam strata tinggi sosial kemasyarakatan. Hanya bisa diraih apabila seseorang memiliki bekal pendidikan yang baik.
Hal itu tercermin dari gelar akademik yang dimiliki yang berasal dari universitas – universitas ternama. Zaman itu memang bisa disebut sebagai orde gelar akademik. Potret kunci keberhasilan masa depan seseorang itulah yang membuat Sudjiatmi meyakini sepenuhnya. Betapa pentingnya pendidikan anak-anaknya.
Ya, cukup Sujiatmi dan suaminya –Notomiharho- saja yang mengalami kepahitan hidup di masa lalu. Penuh dengan keterbatasan dan dikepung kesulitan. Tersebab keterbatasan pilihan hidup di masa lalu. Salah satu faktor penyebabnya dikarenakan keterbatasan pendidikan formal yang mereka miliki. Sujiatmi dan sang suami -Notomihardjo- memang menikah saat usia keduanya masih sama-sama belia. Sujiatmi masih berusia 16 tahun. Sementara Notomihardjo berusia 19 tahun.
Namun sang Ibunda Jokowi kokoh berprinsip. Tidak dengan masa depan anak-anak mereka. Maka, Sujiatmi sangat gencar menanamkan kesadaran akan pentingnya sekolah sebaik-baiknya. Termasuk kepada putra sulungnya. Joko Widodo. Jokowi pun membuktikan harapan sang orang tua. Dengan diterima menjadi mahasiswa Fakultas Kehutanan, UGM dan meraih gelar Sarjana Kehutanan.
Betapa pentingnya pendidikan, juga tertanam kuat di benak dan pikiran Jokowi. Tidaklah mengherankan, apabila kini muncul program prioritas SDM unggul. Merupakan refleksi kebijakan penguatan pendidikan bagi seluruh anak-anak bangsa dan masyarakat Indonesia. Sebagai sebuah cermin atas apa yang pernah ditanamkan sang ibunda. Untuk maju dan setara dengan bangsa lain di era global, anak – anak Indonesia harus mendapatkan pendidikan yang baik. Menjelma menjadi SDM unggul.
Penutup
Jokowi adalah typical seorang Jawa tulen. Tercermin dari sikapnya. Yang menempatkan sosok seorang Ibunda pada posisi yang sangat tinggi dan mulia. Atas dasar keyakinan religiusitas dan spiritualitas. Disamping juga perspektif sosio kultural komunitas Jawa.
Sujiatmi memang bukanlah seorang wanita ambisius. Yang selalu menekankan anaknya untuk meraih posisi setinggi-tingginya di tengah masyarakat. Tanpa berupaya mengukur baju badan sendiri. Seringkali bahkan dengan pilihan cara yang tidak semestinya.
Tatkala, Jokowi untuk pertama kalinya hendak maju menjadi Walikota, Sujiatmi termasuk memiliki sikap yang cenderung konvensional. Menyerahkan segala sesuatu yang terbaik kepada sang anak. Seraya memberikan doa dan restu kepada Jokowi. Jujur, Sujiatmi tidak pernah memiliki mimpi bahwa sang anak akan menjadi pejabat tinggi. Demikian pula tatkala hendak maju menghadapi Pilkada DKI dan Pilpres 2014.
Namun, saat Jokowi telah berhasil menjadi pejabat publik, Sujiatmi tidak pernah main – main dalam mengingatkannya. Sujiatmi selalu berpesan agar Jokowi selalu amanah. Sujiatmi selalu mengingatkan. Bahwa kini anaknya bukan hanya milik keluarga. Melainkan sekarang sudah milik bangsa dan rakyat Indonesia. Bagi Sujiatmi sulit dipercaya bila semuanya bukan atas kehendak Allah SWT. Sepuluh tahun Jokowi bisa naik pangkat tiga kali. Dari Walikota, Gubernur hingga akhirnya menjadi Presiden RI.
Sujiatmi menekankan dengan sangat agar Jokowi selalu bersyukur. Caranya adalah dengan tidak boleh menggak-menggok (belak belok). Harus selalu lurus. Tidak boleh aneh-aneh karena telah diberi amanah oleh rakyat dan Allah SWT. Semua tugas dan tanggung jawab wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Kini, sang Ibunda telah tiada. Bukan hanya Jokowi yang berduka. Seluruh masyarakat pun turut berduka dan kehilangan. Seluruh rakyat kini khusuk bermunajat. Memanjatkan doa semoga arwah Ibunda Presiden Joko Widodo husnul khotimah. Senantiasa diampuni dosanya, diterima semua amal ibadahnya, seraya diberikan tempat yang mulai di sisi-Nya. Dan semoga keluarga besar Presiden Joko Widodo senantiasa diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan. Aamiin YRA.***
#Serpong/25032020#
#AgungNugraha/WanaAksaraInstitute#
#Sumber/PenulisanBukuBiografi/Jokowi:RimbawanPascaKayu#
Sumber Foto : https://www.tribunnews.com/nasional/2020/03/25/ibunda-presiden-jokowi-sudjiatmi-notomihardjo-meninggal-dunia



















