Sungguh menjadi fenomena mengejutkan. Ternyata deforestasi bukan melulu soal lingkungan. Lebih dari itu deforestasi ternyata memiiki implikasi yang jauh lebih kompleks dan fundamental. Deforestasi bahkan bisa menjadi penyebab runtuhnya sebuah peradaban komunitas. Benarkah ? Simak artikelnya di https://sebijak.fkt.ugm.ac.id/2021/04/19/deforestasi-penyebab-keruntuhan-peradaban/
Adalah Professsor Diamond. Ia telah membuat duabelas daftar masalah penyebab runtuhnya peradaban masa kini. Delapan dari daftar itu bahkan sudah meruntuhkan masyarakat di masa lalu. Dari mulai soal @) deforestasi/ penggundulan hutan dan penghancuran habitat; @) masalah tanah (erosi, penggaraman dan hilangnya kesuburan tanah); @) masalah pengelolaan air; @) perburuan berlebihan; @ penangkapan ikan berlebihan; @) efek spesies yang didatangkan/species exotic pada species asli/endemik; @) pertumbuhan populasi manusia yang berlebihan; @) dan peningkatan dampak per kapita manusia.
Artikel ini secara khusus akan membedah soal species eksotik invasif serta dampaknya terhadap lingkungan. Dialektika yang berkembang sampai hari ini masih menjadi perdebatan seru dan menimbulkan kontroversi. Pro dan kontra. Bagaimana menempatkan isu dan kosep spesies eksotik invasif menjadi sebuah dialektika cerdas. Lebih dari itu, tidak kontra produktif dalam tataran praksis.
Fenomena Spesies Eksotif Invasif
Selain deforestasi, ada satu lagi issue yang perlu diwaspadai. Penanaman spesies eksotik di suatu kawasan. Rimbawan tahu bahwa spesies eksotik, ada yang invasif dan ada pula yang tidak. Sampai hari ini, soal spesies eksotik –terutama kategori invasif- ini menimbulkan perdebatan seru. Di kalangan rimbawan silvikulturis yang terbuka bahkan berani membudidayakannya. Versus rimbawan konservasionis yang resisten bahkan menolak keras. Termasuk menjadi persoalan seru dalam dunia sertifikasi voluntary. Jangankan membudidayakan, melihat keberadaan spesies eksotif invasif yang tumbuh secara almiah -dalam skala luas dan massif- saja bisa menjadi catatan. Bahkan temuan major yang mampu menggagalkan kelulusan kinerja sebuah unit manajemen.
Salah satu contoh yang paling konkrit. Misalnya, tanaman Acacia mangium. Tanaman ini selalu dikawatirkan invasif. Acacia mangium, merupakan pohon cepat tumbuh. Berasal dari beberapa bagian Indonesia, Papua Nugini dan Australia. Telah dibudidayakan di luar lingkungan asalnya. Diperkenalkan ke daerah dataran rendah tropis yang lembab di Asia, Amerika Selatan dan Afrika selama beberapa dekade terakhir. Acacia mangium adalah pohon multiguna. Digunakan dalam wanatani, kehutanan dan untuk restorasi lahan terdegradasi. Jenis ini juga sangat invasif di banyak wilayah di mana ia telah diperkenalkan di luar jangkauan aslinya.
Akasia mangium (Acacia mangium Willd) bukan tumbuhan asli Kalimantan. Namun sejak puluhan tahun tumbuh ini berkembang pesat di berbagai wilayah Kalimantan. Termasuk Kalimantan Timur. Dikenal sebagai tumbuhan yang mampu tumbuh di lahan kritis. Sehingga awal tahun 1990-an dijadikan tanaman reboisasi. Sekaligus pengendali alang-alang di wilayah kritis hutan penelitian dan pendidikan Universitas Mulawarman di Bukit Soeharto. Hasil evaluasi para pakar membuktikan Acacia mangium bukanlah tipe invasif yang sesungguhnya. Karenanya tidak ada alasan menolak sebagai tanaman pengendali lahan kritis selama potensi ancaman terjadinya kebakaran lahan hutan dapat dicegah (Sutedjo dan Warsudi. 2017).
Ekosistem hutan kerangas di Brunei rawan kebakaran dan konversi untuk pembangunan. Lebih dari itu, Acacia mangium telah berhasil menyerbu kawasan hutan negeri ini. Acacia mangium menghasilkan serasah daun terus menerus yang berfungsi sebagai bahan bakar kebakaran, memberikan umpan balik kebakaran yang positif. Bahkan Acacia mangium menjadi lebih dominan setelah setiap kebakaran. Sementara spesies asli terus menurun jumlahnya dan mungkin punah secara lokal. Saat ini, hutan kerangas di Brunei perlahan, tetapi terus-menerus, digantikan hutan Acacia mangium mono dominan. Menimbulkan masalah serius bagi ambisi konservasi Brunei (Anonim, 2020).
Lebih jauh, informasi The Global Invasive Species Database, Acacia mangium adalah pohon cepat tumbuh dan menghasilkan banyak biji. Digunakan sektor kehutanan dan restorasi ekologi. Ditanam dan dibudidayakan di banyak pulau Pasifik. Hal ini telah dinaturalisasi dalam banyak kasus dan merupakan ancaman bagi flora asli (Rafi’ah Jambul et al., 2020).
Kelola Spesies Eksotk Invasif
Fakta berbeda terjadi dan berkembang di Indonesia. Selama beberapa puluh tahun banyak usaha hutan tanaman industri (industrial timber estate atau HTI) di Indonesia menanam Acacia mangium. Dalam skala luas. Bahkan ada unit usaha yang mengembangkan seed orchard dan menyebar luaskan penggunaan jenis ini untuk bahan baku pulp. Hal ini menunjukkan bahwa rimbawan Indonesia berkolaborasi rimbawan mancanegera memiliki kemampuan tinggi dan sangat tinggi mengelola HTI. Termasuk mengelola spesies invasif.
Ada lagi spesies invasif terkenal di Indonesia. Psidium guajava. Psidium guajava adalah pohon atau semak tropis, asli Amerika Tengah dari Meksiko ke Amerika Selatan bagian utara. Diperkenalkan ke sebagian besar lokasi tropis dan sub-tropis di seluruh dunia untuk buahnya yang dapat dimakan. Di beberapa negara, pemanenan, pemrosesan, dan ekspor buah menjadi dasar industri yang cukup besar. Karena kemampuan invasifnya tumbuh di berbagai jenis tanah dan di berbagai iklim. Padang rumput dan ladang didominasi dan tanaman asli dikalahkan spesies ini, yang memiliki kemampuan membentuk semak lebat. Hal ini menyebabkan penunjukannya di banyak daerah sebagai gulma berbahaya untuk dikendalikan atau dimusnahkan. Itu diperingkat oleh beberapa otoritas di antara kategori invasif tertinggi (Anonim, 2020). Namun ada sekelompok masyarakat Indonesia berwiraswasta dengan buah tanaman ini dan mereka menjadi sejahtera. Karenanyalah, bagi Indonesia, sepanjang dapat mengelola dengan benar, tanaman invasif bukan ancaman bagi ekologi setempat.
Satu lagi species yang menimbulkan cekcok adalah Swietenia mahagoni. Swietenia mahagoni, adalah spesies asli Florida Selatan di Amerika Serikat dan pulau-pulau di Karibia termasuk Bahama, Kuba, Jamaika, dan Hispaniola. Penghasil kayu kualitas wahid mahoni. Mahoni ditanam sebagai pohon perkebunan dan dijual di pasar Kayu di Kerala, India. Di beberapa fora kehutanan internasional Indonesia dituntut mematuhi CITES Appendix II. Maknanya “mencakup spesies yang tidak selalu terancam punah, namun perdagangannya harus dikendalikan untuk menghindari pemanfaatan yang tidak sesuai dengan kelangsungan hidup mereka”. Memang Indonesia mengakui bahwa Swietenia mahagoni (mahoni) adalah spesies eksotik. Namun telah dibudidayakan, ditanam dalam skala luas, dan didayagunakan. Bahkan oleh pihak-pihak non kehutanan. Antara lain oleh PUPR untuk peneduh jalan.
Realitas ini juga menunjukkan bahwa rimbawan Indonesia memang piawai dalam mengelola tanaman. Dengan demikian kekhawatiran Professor Diamond tentang bahaya spesies eksotik yang mendominasi jenis alami dapat diabaikan. Sepanjang memungkinkan dan produktif. Yaitu dapat difabrikasi, tidak ada salahnya membangun hutan dengan spesies eksotik. Bukankah sekitar 200 tahun yang lalu, jati juga spesies eksotik ? Pakar-pakar kehutanan Indonesia telah membudidayakan dan melakukan perbaikan genetik sehingga mencapai kondisi saat ini. Pada sisi lain para rimbawan tidak hanya fokus pada pembangunan hutan melainkan lebih jauh lagi fokus pada industrialisasi hasil hutan. Menjual hasil-hasil industrinya di pasar global. Berkat usaha para rimbawan, Indonesia pernah menduduki posisi terhormat di dalam produksi pulp, veneer, plywood, meubel dan masih banyak lagi.
Penutup
Persoalan kerusakan lingkungan sebagai dampak deforestasi wajib direspon secara serius. Melalui berbagai usaha konkrit dan nyata. Termasuk mengantisipasi dan menanggulangi kerusakan lingkungan sebagai dampak penanaman spesies eksotik invasif. Terkait soal spesies eksotik invasif terbukti Indonesia memiliki kompetensi dan pengalaman menundukkannya. Untuk kemudian mengelolanya menjadi jenis yang bermanfaat secara ekonomi namun tidak merusak lingkungan. Bagaimana bisa ? Ini yang perlu dipahami sekaligus diyakini.
Program rehabilitasi ribuan hektar atas ratusan ribu hektar kawasan deforested dapat dipahami karena yang direhabilitasi adalah ekosistem. Indonesia juga tidak berada dalam proses collapsed sepanjang dapat membangun hutan di kawasan-kawasan yang ter-deforested. Bahkan rimbawan Indonesia bersama partner mampu membangun dan mengelola jangka hutan tanaman industri yang terdiri dari jenis invasif, mengolahnya melalui industrialisasi serta memasarkan produk-produknya di pasar global. Rimbawan Indonesia bersama partner juga dapat mengelola kawasan luas exotic species non-invasive dan mengolahnya serta menjual hasil olahannya di pasar global. Tak terkecuali, masyarakat Indonesia juga ada yang hidup dari mengolah buah jenis tanaman invasif. Sehingga tanpa design pemerintah, tanaman jenis ini telah terkelola dengan baik.
Satu lagi wajib dipertimbangkan. Pembangunan dan pengelolaan jangka panjang hutan tanaman industri ternyata berperan besar dalam carbon sequestration dan mitigasi bencana iklim. Dengan demikian, kelola jangka panjang skala luas untuk hutan tanaman industri menunjukkan manfaat ekonomi, manfaat sosial dan manfaat lingkungan.
Akhirnya, terkait pembangunan hutan Indonesia mempunyai pengalaman membangun timber estate – hutan tanaman industri – sebanyak beberapa juta hektar. Ada timber estate kelas raksasa dan ada pula timber estate kelas rakyat. Masing-masing melayani industri sesuai kemampuannya. Ada pula pabrik-pabrik yang memproses bahan baku dari hutan itu. Baik berskala besar maupun berskala kecil, namun secara organisatoris tidak mengait dengan usaha timber estate ini. Pengalaman berharga itu dapat diulang kembali manakala kondisi geopolitik ipoleksosbutling memungkinkan. Dengan demikian pernyataan Professor Diamond tentang deforestasi dan perusakan lingkungan membawa bencana bahkan keruntuhan peradaban dapat diabaikan.
Indonesia harus cerdas memainkan isu lingkungan hidup dan kehutanan. Sebagai negara super power di bidang lingkungan hidup dan kehutanan, Indoensia memiliki potensi geopolitik dan geostrategi yang khas yang diyakini menjadi keunggulan. Menjadikan Indoensia sebagai patron dalam percaturan politik global. Menjadi rujukan usaha dan upaya pencegahan dan pengendalian perubahan iklim global. Melalui determinasi komitmen menurunkan laju deforestasi, sekaligus merehabilitasi hutan dan lahan yang terdegradasi secara nyata dan konkrit. Inilah saatnya rimbawan menunjukkan jati diri kerimbawanannya. ***



















