Era kesejagatan telah berlangsung sejak dua dekade lalu. Bersamaan datangnya era millennium ketiga di tahun 2000. Dikenal dengan globalisasi. Mengintegrasikan dunia beserta seluruh komunitasnya. Menjelma menjadi sebuah wilayah besar. Didorong pertukaran sekaligus penyatuan budaya. Juga sebagai dampak pesatnya kemajuan iptek. Terutama teknologi komunikasi dan digitalisasi.
Kunci globalisasi hanya satu. Penguasaan iptek. Itu hanya bisa dicapai bila setiap warga suatu komunitas menguasai kompetensi literasi. Mewujud sebagai kultur literasi. Dalam konteks generasi muda SMK Kehutanan, kultur literasi dibangun antara lain melalui ajang lomba literasi hijau. Menjadikannya sebagai sebuah tradisi. Targetnya membentuk karakter dan mentalitas generasi muda Indonesia hijau dan tangguh.
Sejak 2020, Badan Pengembangan dan Penyuluhan SDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan Lomba Literasi siswa siswi SMK Kehutanan di lingkup KLHK. Dioperasionalkan Pusdiklat Kehutanan dalam bentuk Lomba Karya Ilmiah. Tahun ini, melanjutkan tradisi yang mulai terbangun Pusdiklat Kehutanan kembali menggagas Lomba Literasi Hijau Lingkup SMK Kehutanan. Kali ini bukan hanya SMK Kehutanan lingkup KLHK. Melainkan telah melibatkan SMK Kehutanan Seluruh Indonesia. Sebagaimana tertuang dalam Keputusan Kepala BP2SDM No SK II/P2SDM/DIK/DIK-4/6/2021 tentang Penyelenggaraan Lomba Literasi Hijau.
Globalisasi dan Literasi
Globalisasi dengan seluruh sistem dan tata nilainya telah menjadi sebuah keniscayaan. Tak dapat dihindari apalagi dihilangkan. Harus dihadapi dengan segenap pemahaman. Termasuk pemahaman karakteristik globalisasi yang selalu menghasilkan sebuah paradoks. Kontradiksi. Tak lain kompetisi versus kolaborasi.
Ya, di satu sisi globalisasi mengharuskan kompetisi. Selalu harus menjadi sang pemenang. Menjelma sebagai yang terbaik. Tercermin dari berbagai perspektif yang menjadi tolok ukur. Antara lain SDM paling maju dan paling kompeten di bidangnya. Meraih predikat budaya terunggul. Tercermin dari hegemoni kebudayaan yang mewujud sebagai kiblat komunitas dunia. Pun di bidang ekonomi. Menjadi lokomotif perekonomian paling kompetitif. Tercermin sebagai produsen terbesar dan pemasok utama pasar dunia.
Tak ketinggalan di bidang teknologi. Harus memiliki teknologi paling canggih. Selalu selangkah lebih maju. Dibanding teknologi paling maju di belahan komunitas lain. Dan, tentu saja menjadi produsen ilmu pengetahuan. Menjelma menjadi sumber dialektika sekaligus pelopor perkembangan iptek. Terlihat dari keberadaan universitas kelas dunia. Dengan peran dan kontribusi pakar yang menguasai berbagai bidang keahlian. Tentu masih banyak berbagai keunggulan lainnya. Intinya sekali lagi kompetisi di era global mewajibkan menjadi pemenang. Bukan pecundang.
Namun di sisi lain, kesejagatan memiliki wajah paradoks yang sama sekali berbeda. Globalisasi juga menuntut kolaborasi. Mengharuskan penyelesaian persoalan bersama. Bahu-membahu. Problem yang mengancam keberlangsungan dan keberlanjutan kehidupan komunitas global secara lintas generasi.
Sebut misalnya kolaborasi mengatasi masalah pemanasan global dan perubahan iklim. Pelestarian tumbuhan dan satwa liar. Kerusakan lingkungan hingga menghadapi wabah pandemi Covid-19. Juga kolaborasi untuk mengatasi masalah – masalah global lainnya.
Dengan karakteristik sedemikian rupa, maka kemenangan globalisasi terletak pada ketersediaan SDM unggul. Untuk meraih SDM unggul syaratnya hanya satu. Harus memahami dan menguasai iptek. Hal itu bisa dicapai melalui kompetensi literasi. Mewujud dan berkembang menjadi sebuah kultur literasi.
Membangun Kultur Literasi
Kesejagatan menghasilkan segitiga global. SDM unggul, Iptek paling canggih hingga kompetensi atas kultur literasi. Hierarkinya jelas. Strukturnya terang benderang. Membangun kultur literasi tentu harus diawali dengan memahaminya. Mulai dari etimologis, historis, hingga sosiologis. Literasi, secara etimologis berasal dari bahasa latin. Literatus. Berarti orang yang belajar. Sementara secara historis sangat terkait dengan kemampuan komunitas mengolah dan memahami informasi dari waktu ke waktu. Terakhir, secara sosiologis menghasilkan praksis yang sangat terkait erat dengan proses membaca dan menulis.
Sama halnya dengan berhitung sebagai kompetensi dasar, maka membaca dan menulis merupakan inti atau jantung keberhasilan proses belajar setiap siswa. Bukan hanya di sekolah. Namun bahkan setelahnya. Menjadi modal utama generasi muda menaklukkan sekaligus memenangi tantangan. Menjadi yang terbaik.
Kultur atau budaya literasi secara kritis terkait lima kompetensi. Mulai dengan kompetensi memahami, menggunakan, menganalisis, memaknai hingga mentransformasi teks. Setelah siswa mampu memahami teks, maka akan naik setingkat pada kompetensi menggunakan teks untuk kepentingan tertentu. Tahapan berikutnya adalah menganalisis teks yang tercermin dari kompetensi mendalami sebuah teks untuk penguatan atau pelemahan. Mulai cara pandang, nilai yang dianut hingga mindset. Setelah itu sampai pada tahapan menafsirkan teks. Tak lain merupakan kompetensi literasi dalam bentuk memaknai teks. Terakhir, kultur literasi tercermin pada kemampuan mentransformasikan teks kepada para pihak.
Merujuk kompetensi literasi yang demikian kuat dan kompleks, menjadikannya sebagai sebuah kompetensi yang lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis. Literasi berkembang secara lebih luas. Pada pemahaman dan pemaknaan konsep dan praktik sosio kultural. Bukan terbatas hanya pada kompetensi membaca dan menulis, namun berkembang lebih luas. Menjadi berbagai jenis literasi. Antara lain literasi media, literasi komputer, literasi sains, literasi sekolah, literasi musik, dan berbagai literasi lainnya.
Selain literasi dalam konteks konvensional manual, maka pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan digital menuntut revolusi menuju masyarakat milenial melek literasi digital. Dalam hal ini sangat diperlukan percepatan program akselerasi literasi digital. Bisa dilakukan antara lain melalui pemahaman paradigma literasi yang tidak sebatas manual. Melainkan juga digital. Literasi tidak sekadar membaca dan menulis. Namun juga keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan visual, digital, dan auditori. Termasuk pemenuhan akses internet di semua perpustakaan menjadi sebuah E- Library.
Selanjutnya, dalam konteks implementasi konsep literasi komprehensif -di semua SMK Kehutanan- harus meliputi semua unsur. Baik literasi dasar (basic literacy), literasi perpustakaan (library literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy) hingga literasi visual (visual literacy).
Bagaimana membangun kunci sebuah tradisi baru literasi. Tidak sulit. Mulailah dengan melakukan hal-hal yang sederhana. Namun konkrit dan konsisten. Bisa dengan mulai membaca minimal satu artikel sehari dan menuliskan kembali menjadi sebuah resume. Kemanapun pergi jangan lupa selalu membawa buku. Sehingga bisa membaca buku di kala senggang. Baik di dalam bus, di bandara, di dalam pesawat, saat antri dan sebagainya. Optimalkanlah peran perpustakaan, termasuk E-Library. Mulai membiasakan memberi hadiah berupa buku. Bisa juga membentuk komunitas membaca. Rajin mengikuti acara bedah buku dan rajin menulis resume dan atau resensi buku. Termasuk membiasakan menulis buku harian.
Pada akhirnya, budaya literasi harus mampu menumbuhkan rasa cinta pada ilmu pengetahuan, kebenaran dan fakta. Hal itu bisa dilakukan melalui penguasaan kompetensi membaca yang harus diimbangi dengan validasi manual maupun digital. Konsekuensinya, di masa yang akan datang masyarakat harus mengubah perilaku dari budaya lisan. Menjadi budaya baca dan tulis.
Penutup
Literasi adalah masa depan bangsa. Ia menjadi penanda kebangkitan generasi muda Indonesia. Agar bangkit kembali menjadi hebat di tengah percaturan dunia di era kesejagatan. Sangat relevan memahami dan memaknai ungkapan penulis besar Indonesia, Pramodya Ananta Toer. Bahwa, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Hanya tulisan yang bisa menjadi prasasti. Bukti yang mampu menunjukkan tingginya peradaban sebuah komunitas. Baik masa lalu, hari ini maupun di masa yang akan datang. Pun, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang. Bukan hanya di tengah masyarakat namun juga lenyap dari sejarah.
Lomba literasi hijau di kalangan siswa siswi SMK Kehutanan seluruh Indonesia ini sungguh sangat penting. Sebagaimana pesan yang pernah diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Siti Nurbaya, MSc, pada lomba untuk kali pertama tahun 2020 lalu. Bahwa, Ia bisa menjadi media efektif dalam meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap komitmen dan kesadaran akan nilai-nilai lingkungan hidup dan kehutanan. Harapannya akan mampu menjadi penggerak dalam mewujudkan Indonesia hijau dan tangguh dalam segala aspek kehidupan. Tak kalah penting, meningkatkan dan menjaga budaya literasi bidang lingkungan hidup dan kehutanan di lingkup SMK Kehutanan. Termasuk mengokohkan keinginan untuk berpartisipasi dalam membela dan menegakkan prinsip-prinsip dasar lingkungan hidup dan kehutanan.
Memang, dalam setiap kompetisi menjadi pemenang tentulah akan sangat membanggakan. Namun dalam membangun kultur literasi bukan menjadi juara yang diutamakan. Melainkan kemampuan mewujudkan kultur literasi dalam keseharian. Apa guna menjadi pemenang lomba apabila hanya sesaat. Setelah selesai lomba, berakhir pula perilaku literasi. Sesungguhnya yang lebih substansial dalam mewujudkan kultur literasi tentulah bila ia menjadi penanda perubahan sikap dan mentalitas. Menjadi sebuah kebiasaan baru. Sekaligus menjelma menjadi pintu dan jendela kesuksesan generasi muda kehutanan di masa depan.
Selamat berlomba. Selamat memasuki budaya literasi.***



















