Hari ini, sebagian besar dari 4,5 milyar umat manusia dicekam kekhawatiran besar. Tersebab akumulasi perilaku a-sosial lagi abai lingkungan hidup yang berdampak terhadap kelestarian bumi. Menjelma menjadi sebuah ancaman nyata. Benar-benar di depan mata. Bersumber beragam hasil riset, kajian dan analisa sahih para pakar berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia. Mulai sejarah, arkeologi, antropologi ragawi, biologi molekuler, genetika, dan masih banyak lagi. Semuanya bermuara pada satu titik kesamaan. Tak lain dan tak bukan ancaman musnahnya ras bernama manusia (Homo sapiens).
Ironisnya, ancaman dahsyat kepunahan tersebut bukan karena “kutukan” atau hukum alam. Dalam bentuk berbagai kejadian bencana. Sebagaimana punahnya makhluk-makhluk purba ribuan bahkan jutaan tahun lalu. Bukan pula tersebab ledakan perang nuklir yang tak terhindarkan. Akibat pertikaian para elit psikopat pemimpin negara – negara banal. Sama sekali bukan.
Ancaman tersebut justru berasal dari ulah segelintir manusia. Jumlahnya tak lebih dari 7 persen, namun menguasai 80 persen sumberdaya (baca : energy) dunia. Dengan gaya hidup super kunsumtif dan post hedonisme. Dibungkus dengan jargon kemajuan peradaban paling modern, kasta paling elit di muka bumi itu berpesta pora sepanjang hidup. Seraya memporak-porandakan ekosistem di seluruh jagat. Semata-mata hanya untuk memuaskan ego dan nafsu serakahnya. Termasuk mempertahankan status quo super duper elitnya. Tentu saja dengan mengabaikan keberlanjutan fungsi ekosistem dan kelestarian konservasi. Termasuk abai atas penderitaan warga di berbagai belahan dunia lain yang terus dicekam kekurangan, kelaparan dan kemiskinan. Yang pada akhirnya kini berbuah bencana kerusakan lingkungan yang tak terpulihkan. Dikenal dengan segitiga kerusakan global. Ancaman penggurunan (desertifikasi), ancaman kepunahan kehati dan perubahan iklim (climate change).
Itulah kira-kira sekelumit intisari tulisan berjudul “Masa Depan Ras Manusia”. Karya seorang intelektual, tokoh konservasi sekaligus birokrat handal, Ir. Wiratno, MSc. Dibedah dalam acara diskusi bertajuk “Senandung Alam dan Budaya”. Melibatkan hampir seluruh kolega dan keluarga besar Direktorat Jenderal KSDAE. Tentulah tidak mengherankan karena sang penulis naskah tersebut tak lain adalah Sang Dirjen KSDAE, KLHK. Sebuah acara yang amat sangat istimewa. Berlokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta pula, 27 Maret 2021. Sebagai bagian interaksi intens para pekerja konservasi. Sekaligus konsolidasi jajaran rimbawan Ditjen KSDAE.
Paternalisme Konservasi
Konservasi dan upaya pelestariannya adalah sebuah kerja ketulusan. Demi keabadian. Di sudut-sudut kesunyian karena jauh ditengah rimba belantara –kawasan konservasi dan taman nasional- yang terisolir dan seringkali tak terjangkau teknologi. Tak jarang pula jauh dari peradaban. Para pekerja konservasi senantiasa konsisten menjaga dan melestarikan fungsi ekosistem, spesies maupun keragaman genetik. Agar dapat diwariskan bagi kemaslahatan kehidupan lintas generasi. Tanpa kecuali. Diantara manusia itu banyak yang hidupnya didedikasikan untuk memelihara alam, menyantuni satwa liar, menghormati semua ciptaan Tuhan yang dijumpai di sekitar ruang hidupnya. Ada sekelompok manusia yang dipanggil atau terpanggil untuk melakukan laku yang sungguh luar biasa (halaman 3). Sang Dirjen KSDAE menyebutnya secara lugas sebagai personal “calling”.
Selain itu konservasi juga bekerja untuk kemuliaan. Disebut dengan manusia berhati emas (Halaman 4). Tanpa kenal lelah dan mengharap imbalan, menjaga keseimbangan dan kesinambungan harmonisasi alam dan lingkungan. Agar berfungsi optimal bagi kesejahteraan seluruh umat manusia. Tidak memilih atau terikat ideologi politik, etnosentrisme ras, bias gender dan subyektivitas identitas sosial kultural lainnya. Semuanya bersifat universal. Hanya orang-orang yang memiliki karakter istimewa saja yang mampu melakukannya.
Potret konservasi Indonesia, khususnya kelembagaan, infrastruktur hingga kondisi SDM-nya tidak bisa dilepaskan dari aspek kepemimpinan. Dalam konteks kinerja dan fungsi kelembagaan konservasi seperti kelembagaan Direktorat Jenderal KSDAE KLHK, sungguh diperlukan kepemimpinan berbasis paternalisme konservasi. Gerald (2010) menyebutnya sebagai sebuah tipe kepemimpinan paternalistik yang baik hati (Benevolence). Tercermin dari karakter sang pemimpin yang banyak memberikan kebebasan kepada jajarannya berkreativitas. Demi tercapainya perkembangan dan kemajuan kelembagaan organisasi.
Lebih jauh, pemimpin tipe paternalisme konservasi cukup memberikan pengawasan dalam proses kerja jajarannya. Selain itu, sang pemimpin juga menunjukkan kebaikan hati dengan memperlihatkan kepedulian -dalam taraf normal- terhadap kehidupan pribadi para staf. Misalnya dengan secara rutin menanyakan kondisi keluarga staf. Hal ini sesuai dengan konsep Sang Dirjen KSDAE yang menyebutnya sebagai sikap “humble” atau rendah hati (Halaman 14). Bagaimanapun, Indonesia sebagai negara paternalistik dengan konsep patron klien yang sangat kuat, nilai kekeluargaan menjadi penting bagi orang Indonesia. Termasuk para pekerja konservasi. Oleh karena itu, gaya pemimpin rendah hati ala Mas Wiratno memiliki peran penting. Tersebab banyak jajaran staf yang menginginkan pimpinan yang berperan seperti orang tua mereka.
Selain paternalistik baik hati, paternalisme konservasi juga memiliki karakter kepemimpinan bertipe paternalistik bermoral (Moral). Merupakan kepemimpinan paternalistik yang menunjukkan teladan yang baik kepada seluruh jajarannya. Tercermin dengan cara mematuhi berbagai peraturan yang berlaku baik peraturan formal maupun norma masyarakat. Pemimpin konservasi dengan gaya ini akan bertanggung jawab dan memimpin dengan memberi contoh yang baik. Tidak semata-mata hanya dalam ranah pekerjaan. Namun juga dalam keseharian pribadi. Ibarat kata, pemimpin paternalistik bermoral merupakan teladan karena satunya kata dan perbuatan. Tentu semua bisa menilai keteladanan –baik Dr. Siti Nurbaya MSc maupun Ir. Wiratno MSc- sebagai pemimpin tertinggi di jajaran kelembagaan KLHK maupun Ditjen KSDAE.
Sistem Biner Konservasi
Sekarang mari membedah dua skenario proyeksi Sang Dirjen KSDAE dalam tulisannya. Pertama, skenario pesimis atas ancaman kepunahan yang akan menjadi nyata. Dan sebaliknya, skenario optimis dimana ras manusia tetap bertahan hidup bahkan berkembang. Melalui proses yang disebut adaptasi ekologi manusia atas perubahan. Disini tampak jelas, bahwa dalam setiap gagasan dan pemikiran –dalam hal ini terkait konsep pemikiran soal ancaman kepunahan dan masa depan ras manusia- selalu terdapat sistem makna yang berlawanan.
Itulah konsep pemikiran yang disebut oposisi biner atau sistem biner. Konsep yang berasal dari teori strukturalis Saussurean. Dimaknai sebagai sepasang istilah yang terkait atau konsep yang berlawanan dalam arti. Oposisi biner adalah sistem bahasa dan atau pemikiran di mana dua lawan teoritis didefinisikan secara ketat dan saling bertentangan. Ini adalah kontras antara dua istilah yang saling eksklusif. Seperti mati dan hidup, punah dan berkembang, optimis dan pesimis dan sebagainya. Termasuk kepemimpinan paternalisme konservasi juga mengandung oposisi biner. Ia bisa menjelma menjadi paternalisme baik hati penuh moralitas. Atau sebaliknya paternalisme konservasi yang otoritarian dan menindas. Oposisi biner adalah konsep penting dari teori strukturalisme, yang memandang perbedaan seperti itu sebagai hal mendasar bagi semua bahasa dan pemikiran. Dalam strukturalisme, oposisi biner dipandang sebagai penyelenggara dasar filsafat, budaya, dan bahasa manusia.
Simak penjelasan lebih lanjut. Dalam konteks kemajuan peradaban juga terkandung oposisi biner. Di satu sisi sebuah peradaban bisa memunculkan dua dampak berlawanan. Kemajuan atau sebaliknya kemunduran kehidupan. Contoh lain pembangunan. Juga mengandung sistem biner karena bisa berdampak positip berupa kemajuan, namun juga sebaliknya bisa berdampak negatip dalam bentuk kemiskinan akibat kerusakan lingkungan. Kembali pada skenario masa depan ras manusia, maka hal itu juga mengandung konsep oposisi biner. Apakah menghasilkan pilihan skenario optimis (bertahan dan berkembang) atau sebaliknya, pesimis (punah). Tinggal sepakat memilih skenario yang mana.
Penutup
Sampailah akhirnya pada ujung tulisan yang menjadi kesimpulan. Mas Wiratno menuliskan sebuah artikel yang sungguh sangat bernas. Membedah soal masa depan ras manusia. Secara tidak langsung menuntun kesadaran setiap pembaca pada peran dan kontribusi konservasi dalam dialektika tersebut. Mau dibawa kemanakah pilihannya ? Punah sebagai refleksi skenario pesimis. Atau bertahan karena mampu beradaptasi bahkan berkembang sebagai refleksi skenario optimis.
Memaknai tulisan tersebut, tidak lain menghasilkan sebuah kesimpulan besar. Bahwa sesungguhnya penentu keberlanjutan masa depan ras manusia tak lain adalah konservasi. Tentu konservasi dalam arti luas. Tidak sulit menjelaskan rasionalitasnya.
Pertama, konservasi –baik ekosistem, spesies dan genetik- adalah sumber kehidupan ras manusia. Ia menjadi sumber pangan, papan, dan pakaian. Termasuk sumber pasokan energi (baru dan terbaharukan). Kedua, konservasi mencerminkan keseimbangan dan kelestarian lingkungan. Harmonisasi manusia dengan seluruh alam raya. Mas Wiratno menyebut manusia tak lebih dari tamu di bumi ini sehingga ia harus senantiasa menghargai dan mengikuti aturan main tuan rumah. Tiada lain Sang Bumi. Ketiga, konservasi adalah sumber peradaban yang menjamin perkembangan kebudayaan. Tak lain dan tak bukan dimana inti kebudayaan (core culture) terletak pada nilai-nilai ide, gagasan dan pemikiran manusia. Anugrah tertinggi Sang Khalik kepada makhluk bernama manusia. Inti kebudayaan, meskipun abstrak namun sangat jelas, bisa dipahami serta dirasakan keberadaan maupun pengaruhnya sebagai sumber tuntunan dan perkembangan pola sekaligus perilaku setiap manusia. Terakhir, terbukti hilangnya beragam fungsi konservasi sebagai akibat kerusakan alam dan lingkungannya diyakini menjadi penyebab lahirnya berbagai “kiamat” dunia yang diakibatkan berbagai bencana alam.
Sungguh sebuah refleksi penuh arti. Bagi semuanya. Bahkan termasuk bagi diri pribadi Sang Dirjen KSDAE yang pada 28 Maret ini genap sudah berusia 59 tahun. Terima kasih Mas Wiratno. Seraya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih yang telah menganugrahkan seorang pekerja keras, cerdas, namun selalu rendah hati untuk menjadi pembantu Menteri KLHK. Abdi negara sekaligus pelayan masyarakat. Memimpin sebuah lembaga eselon 1 Direktorat Jenderal KSDAE, KLHK dengan rentang kendali tugas berat dan beban tanggung jawab besar. Hari ini dan esok.
Sekali lagi selamat ulang tahun ke-59 Kangmas Wiratno. Semoga senantiasa dilimpahkan kesehatan, kesabaran, kemuliaan serta umur panjang penuh berkah. Konsisten dan senantiasa istoqomah dalam mengemban setiap amanah. Untuk kebaikan sesama maupun demi kebesaran konservasi Indonesia. ***



















