GADO – GADO GUNUNG GEDE PANGRANGO, KISAH INSPIRATIF WAHYUDI WARDOYO

Bulan ini, Oktober 2020 satu lagi buku memoar mantan pejabat Kementerian Kehutanan kembali terbit. Berjudul “Inspirasi dari Gunung Gede Pangrango”. Buku rimbawan senior seorang Wahyudi Wardoyo (WW). Tebal buku 292 + XXVI halaman. Terdiri tiga bagian utama, ditutup sebuah epilog dengan 14 sub bagian. Menjadikan buku ini memiliki rentang obyek pembahasan yang relatif beragam dan juga luas.

Oleh :
Agung Nugraha
Direktur Eksekutif Wana Aksara Institute

Sebuah buku yang tentu saja patut disimak. Bahkan boleh dikata wajib dibaca. Tersebab bisa menjadi kompas bagi para rimbawan yunior. Kiblat para birokrat muda. Juga rujukan kalangan diplomat kehutanan. Dan tentu saja, inspirasi kepada para pihak. Baik kalangan pengamat, akademisi, praktisi dan siapapun yang terkait dengan hutan dan kehutanan. Terutama kalangan konservasionis.

Bukan hanya berisi visi dan nilai-nilai yang dianut sosok seorang birokrat pekerja keras, ulet dan konsisten WW dalam meniti karier. Selama lebih dari 3 dekade. Dengan berbagai posisi penting serta penugasan jabatan strategis di Kementerian Kehutanan. Lebih dari itu, alumni Fahutan UGM angkatan 1969 ini berhasil menjadikan buah pemikiran dan konsep gagasannya masih dan terus operasional. Bahkan hingga hari ini. Tatkala nomenklatur institusi telah berubah menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tetap menjadikan WW masih terus berkiprah. Bak madeg pandhito yang sanggup “idhu geni”. Menjadi guru konservasi yang selalu “digugu lan ditiru”.

Gado-Gado Gunung Gede Pangrango

Jangan terkecoh judul buku. Jangan pula menilai isi buku hanya dari judul buku. Bila merujuk buku sebatas judulnya : Inspirasi dari Gunung Gede Pangrango, tentulah buku ini hanya akan berisi sepenggal kecil kisah WW. Soal bagaimana WW melakukan terobosan di tengah keterbatasan saat itu dalam mewujudkan “mission imposible” pengelolaan kawasan konservasi pada dekade 1990-an. TN Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Melalui kemitraan multipihak.

Membaca secara seksama bab demi bab maupun sub bab demi sub bab buku ini, ternyata bukan hanya melulu berisi soal kemitraan konservasi. Lebih dari itu. Buku ini ternyata memuat beragam catatan obyektif kiprah sekaligus sepak terjang seorang WW. Dengan rentang subyek penting strategis maupun kompleksitas obyek penugasan yang relatif detail. Dari awal karier hingga hari ini.

Berawal dari terobosan kebijakan dan program pengembangan model pengelolaan kawasan konservasi yang dinilai menjadi tonggak keberhasilan WW. Sebuah terobosan yang diakui serta banyak memperoleh apresiasi. Hampir semua tokoh lembaga konservasi di tanah air serta para pejabat setingkat menteri mengakui kepiawaian WW. Termasuk menjadikan apa yang diinisiasinya –Kemitraan Konservasi sebagai sebuah keniscayaan- menjadi sebuah “benchmark” yang kini banyak direplikasi (Halaman 66). Bahkan diduplikasi dalam skala lebih luas. Antara lain berujud Konsorsium Gedepahala (Halaman 81). Sebut beberapa turunan program kemitraan konservasi, antara lain Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bedogol (Halaman 89). Juga Kemitraan Konservasi Owa Jawa (Halaman 103).

WW juga menjadi saksi sekaligus pelaku dinamika politik kehutanan pasca reformasi 1998. Sebagai orang kedua setelah menteri, WW bertanggung jawab secara hierarkis dalam mengawal arah perubahan serta mengendalikan turbulensi transisi politik desentralisasi kehutanan. Termasuk mengatasi dan memberantas ekses moral hazard transisi politik reformasi di sektor kehutanan pasca reformasi. Derasnya malpraktek illegal logging. Yang sempat memporak-porandakan dunia kehutanan Indonesia (Halaman 114). Melahirkan buruknya stigma kehutanan nasional di mata komunitas dunia.

Sebagai tangan kanan menteri dalam hal perekrutan birokrasi, WW juga tercatat memiliki komitmen kuat akan pengembangan kualitas sumberdaya birokrasi. Hal ini jelas bukan soal mudah. Apalagi sederhana. Sudah lama birokrasi kehutanan terjebak pada soal spirit de corps semu. Terjebak pada gugatan semangat primodialisme, khususnya dari sisi gerbong almamaterisme. WW dengan tangan dingin dan keberanian, berhasil membangun tonggak sistem meritokrasi birokrasi kehutanan. Melalui konsep Personnel Assesment Centre (PAC). Sebuah konsep yang awalnya dicurigai – baik oleh kawan sealmamaternya dan terutama rekan non sealmamater- sebagai karpet merah nepotisme berbungkus semangat profesionalisme (Halaman 6).

Semua tak terbukti. Sebaliknya, yang terbukti adalah bahwa PAC memang mewujud sebagai instrument obyektif menggodok dan menghasilkan SDM kehutanan unggul. Terbukti, Kementerian PAN dan Badan kepegawaian nasional serta beberapa Kementerian sempat mengirimkan beberapa ahlinya untuk mempelajari sistem ini (Halaman 6). Implementasinya, walau sempat hilang pasca tahun 2004, mekanisme PAC justru kembali digunakan sejak tahun 2015 oleh Menteri LHK Dr. Siti Nurbaya Bakar MSc (Halaman 7). Bahkan menjadikan WW sebagai salah satu anggota inti tim Panitia Seleksi (Pansel) pejabat eselon 1 dan eselon 2 di lingkup KLHK pada saat ini.

Ibarat wayang, hanya “sang dalang” seorang saja yang bisa menghidupkan kembali wayang yang sudah masuk kotak. Hadir kembali dalam kancah layar panggung. WW bisa melakukan hal yang dianggap muskil itu. Tak lain karena ia otaknya, satu tingkat tipis dibawah dalang. Atau bahkan bisa jadi ia adalah “dalang intelektualnya”. Wallahualam.

Buku ini juga merekam jejak pengalaman kepiawaian diplomasi dan kepemimpinan WW di berbagai kancah maupun forum global. Menjadi anggota berbagai lembaga internasional mewakili Pemerintah RI. Mulai dari atase kehutanan RI di KBRI Tokyo, anggota International Advisory Committee for Biosphere Reserves UNESCO, anggota Board of Trustees CIFOR, serta malang melintang dipercaya membawa panji-panji NKRI. Menjadi pemimpin delegasi Ri dalam berbagai forum pertemuan internasional. Mulai UNFCCC, UNFF, UNCBD, IUCN, ITTO, dan FAO. Sangat komprehensif.

Luasnya rentang kisah dan narasi potret pengalaman, menjadikan buku ini menjelma sebagai sebuah catatan komprehensif. Gabungan antara buku biografi, dialektika paham ideologi konservasi, prinsip-prinsip ideal SDM birokrasi, kekuatan dialektika intelektual diplomasi. Hingga kiblat bagaimana membangun institusi kokoh, akuntabel dan kredibel. Boleh dikata sangat lengkap. Bak makanan khas Indonesia. Gado-gado. Bukan hanya nikmat, namun juga sangat menyehatkan.

Catatan Kritis

Buku ini sudah pasti tak akan terbit tanpa campur tangan penerus sekaligus kader WW : Wiratno. Kader yang berhasil melakukan napak tilas. Yang tanpa kenal lelah tak pernah menyerah. Membujuk WW agar semua kiprah dan catatan pemikirannya dikompilasi dan diterbitkan menjadi sebuah buku.

Betapapun rendah hatinya WW untuk tidak terjebak riya’, atas rasionalitas yang kokoh kuat dari seorang kader, luluh pula hati sang mentor. Dengan segala kelebihan dan keterbatasan akhirnya buku WW pun bisa dibaca dan disimak semua kalangan. Tentulah dukungan YKAN juga memegang andil atas keberhasilan menerbitkan buku yang pantas menjadi bacaan wajib para birokrat dan pemerhati kehutanan ini.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada buku yang sempurna. Dalam konteks konstruktif bagi penyempurnaan edisi cetakan buku WW berikutnya, tak ada salahnya mempertimbangkan beberapa catatan kritis dibawah ini.

Pertama, ada baiknya buku pandangan dan testimoni dari para pihak, disatukan menjadi sebuah bab tersendiri. Ini akan memperkaya bab buku yang hanya berisi 4 bab utama. Untuk sebagian kalangan, angka 4 kurang popular dan bukan menjadi pilihan. Sebaliknya, dengan menjadikan pandangan para tokoh dan testimoni para pihak dalam sebuah bab utama, maka jumlah bab akan lebih banyak lagi. Disamping keberadaan tokoh yang dimintai pandangan akan lebih banyak. Termasuk bila perlu orang-orang yang tidak diperhitungkan dalam konteks posisi dan jabatan, namun memiliki nilai human interest tinggi karena menjadi saksi tingginya intensitas interaksi. Seperti satpam, sopir, sekretaris, ajudan, atau pihak lain yang memiliki rentang waktu lama dalam hubungan relasi. Akan banyak “untold stories” yang bisa dishare dari seorang WW.

Kedua, pendekatan kerangka berpikir struktur isi buku relatif lemah. Apakah berdasarkan pendekatan periode waktu penugasan yang identik dengan jabatan, atau berdasarkan pendekatan ruang lingkup ide dan gagasan pemikiran. Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kalau berdasarkan rentang waktu penugasan, maka kelemahan yang timbul akan banyak subyek pemikiran yang melompat-lompat. Sebaliknya bila berdasarkan ruang lingkup ide dan gagasan, maka dari sisi rentang waktu tidak akan bersifat kronologis. Tidak nyaman. Seperti yang saat ini ditemui dalam buku ini. Disamping perlu menggali banyak hal secara lebih mendalam. Inilah sesuatu yang sulit dilakukan oleh sang editor yang sangat terbatas agenda dan waktunya.

Ketiga, kelemahan struktur buku terletak pada penempatan naskah-naskah makalah dan artikel. Apalagi makalah atau pemikiran berbahasa Inggris yang langsung dimasukkan dalam batang tubuh. Menjadikannya bak sebuah buku proseding. Umumnya, naskah bahasa Inggris paling banyak dikutip hanya beberapa kalimat. Paling banter satu paragraph untuk menjelaskan suatu isu atau aspek tertentu. Sisanya bisa menjadi referensi. Bila dianggap sangat penting dan untuk menjaga otentifikasi, maka bisa ditempatkan sebagai lampiran. Konsekuensi berikutnya, daftar isi menjadi terasing dengan isi buku yang masih memiliki banyak judul dan sub judul yang tak termaktub di daftar isi. Itu salah satu mazab penulisan buku yang umum dianut di dunia penerbitan professional yang tidak terakomodir di buku ini.

Keempat, disini peran editor –tampak- belum optimal. Wajar, subyek yang menjadi editor buku ini sungguh spesial. Sang Dirjen KSDAE terjun langsung. Walau tak ada yang meragukan kapasitas -Mas Inung- namun ditengah padatnya agenda dan jadwal seorang Dirjen KSDAE tentu tidak akan mungkin optimal. Pun, editor sangat konservasi sentris. Seyogyanya editor diserahkan pada pihak luar yang memang khusus mengedit buku ini dengan perspektif orang luar yang –tentu- lebih makro. Lintas aspek dan bidang pendekatan. Posisi Dirjen KSDAE lebih pas menjadi penyelaras akhir. Sebuah tugas yang jauh lebih ringan namun justru jauh kebih substantif dan menentukan.

Catatan kritis terakhir, sebagai orang luar saya belum melihat tokoh yang memberikan pandangan atau testimoni yang mewakili dunia bisnis atau praktisi bisnis. Saya tidak tahu, apakah memang WW tidak terlalu banyak berinteraksi dengan dunia bisnis kehutanan. Termasuk bisnis konservasi. Saya bisa saja salah. Namun akan sangat lebih lengkap bila bisa mendengar atau membaca pandangan maupun testimoni atas seorang WW dari kalangan dunia bisnis. Lagi-lagi hal ini juga agar posisi dan kiprah WW tidak amat sangat konservasi sentris. Sebagaimana tercermin dari buku ini yang cukup komprehensif.

Terlepas dari itu semua, buku WW ini kembali melengkapi khazanah literasi kehutanan nasional. Terima kasih kepada WW yang sudah berkenan berbagi pengalaman dan gagasan pemikiran. Terima kasih pula kepada Mas Inung yang telah berhasil merayu WW sehingga berkenan berbagi kisah dan cerita.

Sejak awal saya selaku Direktur Eksekutif Wana Aksara menerima surat resmi Mas Inung selaku Dirjen KSDAE. Pun, secara pribadi beberapa kali dikontak langsung WW sebagai seorang senior di Kagamahut. Keduanya dengan santun meminta ijin mengutip kembali pemikiran WW yang pernah dimuat di buku terbitan Wana Aksara dalam rangka perayaan 50 Tahun Fakultas Kehutanan UGM (2013). Saya dengan gembira dan segala kerendahan maupun keterbukaan hati mempersilahkannya. Harapannya satu. Semoga banyak kader rimbawan konservasi mumpuni yang akan bercermin dari beragam konsep pemikiran tulisan WW. Demi penguatan karakter guna meraih estafet tampuk kepemimpinan kehutanan nasional ke depan. Bravo konservasi. Salut dan salam hormat untuk WW. ***

Pekanbaru, 29 Oktober 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *