Wahjudi Wardojo : Rimbawan Paripurna dari Gadjah Mada

Wahjudi Wardojo, lahir di Tuban, Jawa Timur, 22 Juli 1950 merupakan anak kelima dari enam bersaudara dari pasangan Soetomo Gondodinoto dengan Soehandimah Tjitroadidjojo. Kakak kandung Wahjudi adalah Prof. Dr. Wuryadi, Dra. Psi. Wurdiyati Susanto, alm. Prof. Dr. Ir. Kapti Rahayu Kuswanto (wafat pada 20 April 2020), Wuryani Suhartini (wafat ketika masih usia 8 tahun), dan adik kandung bernama Ir. Wahyuningsih Machin, M.Si. Penerima anugerah mendapatkan gelar kesarjanaannya dari Fakultas Kehutanan, Jurusan Teknologi Hasil Hutan UGM pada tahun 1976 dan S-2 di Michigan State University di bidang Forestry, East Lansing, Michigan, USA, pada tahun 1990.

Sejak bekerja sebagai staf junior, yang bersangkutan dikenal sebagai staf yang aktif, antara lain, sebagai inisiator Kelompok Volunteer di Direktorat Perlindungan dan Pelestarian Alam dan koordinator “pedagang asongan” staf Ditjen PHKA yang baru lulus dari luar negeri. Tidak lama kemudian, pada awal 1990, yang bersangkutan mendapat amanah menjadi Kepala Subdirektorat Taman Nasional, Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, sampai akhir tahun 1992.

Pada awal tahun 1993 sampai awal 1997 mendapat tugas menjadi Kepala Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sekaligus merangkap sebagai Kepala Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Pada kurun waktu ini, Wahjudi Wardojo memiliki kesempatan untuk mengembangkan leadership, kreativitas, dan inovasi terkait kemitraan, networking, dan bekerja dengan masyarakat. Mengembangkan prinsip-prinsip budaya kerja melalui Introduksi Tiga K (kejujuran di bidang keuangan, kewenangan, dan keluarga); dalam rangka pemahaman konservasi dan pengelolaan taman nasional serta integrasi dengan pembangunan; mengenalkan dan menerapkan konsep 4C (Committed, Consequent, Consistent, and Confident) dan 3M (mutual respect-mutual trust-mutual benefits) serta slogan pemberi semangat staf: “menjadi yang pertama (become the first)”.

Wahjudi Wardojo selanjutnya mendapatkan tugas sebagai Atase Kehutanan di KBRI Tokyo sejak April 1997 sampai Agustus 1999. Tugas tersebut juga merangkap sebagai contact point Indonesia untuk International Tropical Timber Organization (ITTO) di Yokohama, Jepang, mengembangkan kerja sama dengan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (MAFF), Kementerian Luar Negeri (MoFA), Kementerian Lingkungan Hidup (MoE), dan JICA, Jepang; bekerja samadengan anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) untuk mengenalkan konservasi SDA Indonesia di Jepang. Pada April 1999, Wahjudi dilantik sebagai Direktur Sarana Prasarana Ditjen Perkebunan, Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Pada periode tersebut, melakukan inisiasi pemetaan dengan Geography Information System (GIS) bagi perkebunan yang terintegrasi dengan Peta Kehutanan.

Pada Januari 2000–Maret 2001 menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Perlindungan dan Konservasi serta sebagai Sekretaris Menteri Kehutanan. Pada periode ini, Wahjudi Wardojo dipercaya mengemban tugas penting seperti Ketua Working Group untuk Global Cooperation untuk pembentukan INFORM (lembaga antar NGO’s) melakukan pendampingan anti illegal logging di Indonesia, yang terkenal dengan poster berslogan “Jaga Hutan sebelum Musnah”; Ketua Gugus Tugas Kelembagaan Kehutanan bekerja sama Departemen Kehutanan dan Perkebunan dengan USAID Indonesia dan menghasilkan buku Kelembagaan Kehutanan di Era Desentralisasi.

Selanjutnya, sejak 2001–2009, Wahjudi Wardojo mengemban beberapa posisi strategis di Departemen Kehutanan. Pada bulan Maret sampai dengan November 2001, Wahjudi Wardojo ditunjuk menjadi Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, kemudian sebagai Sekretaris Jenderal pada 16 November 2001 sampai dengan 23 November 2005; sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan sejak 23 November 2005 sampai dengan 20 Januari 2009; dan Staf Khusus Menteri bidang Pengamanan Hutan pada 20 Januari 2009 sampai dengan 31 Maret 2009, kemudian mengambil Masa Persiapan Pensiun (MPP) sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Sejak 30 April 2009 sampai saat ini, Wahjudi Wardojo bekerja sebagai penasihat senior untuk kebijakan konservasi di The Nature Conservancy (TNC) Indonesia, sekarang Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Selain itu, yang bersangkutan juga aktif mengabdikan diri sebagai penasihat Kepala Badan REDD (2013–2014); sebagai anggota Dewan Pembina Perhimpunan Burung Indonesia, Ketua Pembina Yayasan Owa Jawa (2013–sekarang); Ketua Majelis Perwakilan Anggota Forum Orang Utan Indonesia (FORINA) mulai akhir 2018 sampai akhir 2020.’

Sejak 2015 sampai saat ini oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wahjudi Wardojo bersama beberapa tokoh nasional diangkat sebagai Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada 21 Oktober 2015, dalam Kongres Himpunan Peneliti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wahjudi Wardojo dianugerahi Piagam Penghargaan sebagai Kepala Badan Litbang Kehutanan Terbaik. Sejak tahun 2015, ditugaskan oleh Menteri LHK menjadi anggota Panitia Seleksi Pejabat Tinggi Madya dan Pratama di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada tahun 2004 sampai dengan 2008, Wahjudi diangkat sebagai anggota Advisory Committee UNESCO bidang Biosphere Reserves, mewakili wilayah Asia Timur dan Pasifik. Kemudian, pada tahun 2016 sampai dengan 2019, yang bersangkutan juga berperan sebagai Ahli Bidang Natural (Expert on Natural) pada World Heritage Committee, UNESCO. Pada tahun 2014–2019, Wahjudi Wardojo juga diangkat sebagai anggota Dewan Penasihat (Advisory Board) Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati-Institut Teknologi Bandung (SITH ITB).

Wahjudi Wardojo melahirkan beberapa karya tulis, baik berupa jurnal, buku, makalah, maupub sebagai reviewer pada jurnal internasional. Pada tahun 1999, bersama beberapa ahli konservasi dunia menyusun buku Investing in Biodiversity yang diterbitkan oleh World Bank. Buku tersebut tercatat sebagai salah satu highly cited publication terkait isu konservasi dan pembangunan. Pada tahun 2002, menulis terkaitTrends in Indonesian Forestry Policy” di Jurnal IGES (Institute for Global Environment Strategies). Kemudian, pada tahun 2004 bersama Wandojo Siswanto pada acara Seminar Seri Pertama United Nations Forum on Forests (UNFF) di Interlaken, Switzerland, menulis makalah berjudul “Proses Desentralisasi Kehutanan Indonesia”. Makalah tersebut kemudian menjadi bagian dari buku yang berjudul Politik Desentralisasi, Hutan, dan Kekuasan Rakyat yang diterbitkan oleh CIFOR pada tahun 2006. Walaupun senantiasa menolak untuk menuliskan buku pengalaman selama aktif sebagai birokrat, akhirnya atas desakan Wiratno dan teman-teman lain, pada tahun 2020, Wahjudi Wardojo selesai menulis buku semacam biografi berjudul Inspirasi dari Gunung Gede Pangrango. Buku ini merupakan kumpulan makalah, sambutan, pidato, dan pemikirannya selama berkarier di Departemen Kehutanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *