[padding top=”0″ bottom=”0″ right=”5%” left=”5%”]
Rembugan perdana PP Kagamahut 2016-2019 malam ini (25 April 2017), berlangsung semarak dan semanak. Ditemani teh anget dan gudeg ala ayam goreng Suharti, Rembugan menghasilkan beberapa catatan penting.
Kumendan PP Kagamahut, Pak Hartono, membuka rapat dengan membeberkan Garis-Garis Besar Haluan Kerja dan Kebijakan Kagamahut 2016-2019. “ seperti Orde baru, jadi kepengurusan ini diamanahi untuk melaksanakan program dan kegiatan sesuai dengan garis-garis besar haluan tadi”. Bagi sedulur Kagamahut yang belum mengetahui dan membaca Garis-garis besar tadi silahkan lihat box. Selanjutnya bidang-bidang dipersilahkan untuk menyampaikan program kerjanya. Di mulai dari Bidang Kajian Kebijakan.
Kajian Kebijakan
Pak Agung memulai dengan kronologi singkat “bahwa saya mendapat garis-garis besar tadi pada hari Jumat tanggal 21 April 2017, kemudian libur, libur dan libur lagi. Dan baru tadi sempat ngobrol dengan beberapa sedulur kagamahut”
Dari hasil ngobrol, setidaknya ada beberapa isu kebijakan yang perlu menjadi agenda untuk mendapat perhatian kagamahut, antara lain: Tora, kajian Gambut, menstreaming perubahan iklim, NDC, Akses manfaat masyarakat sekitar hutan, PPIB
Sementara mbak bhe (Belinda) menambahkan isu yang penting adalah bagaimana penguatan peran rimbawan (kehutanan) paska penggabungan Kehutanan dan Lingkungan Hidup.
Sedangkan Radian menyebut isu yang sangat penting saat ini adalah revisi UU Agraria dan UU Kehutanan karena ini terkait dengan peran rimbawan kedepan.
Pak Hartono menyarankan perlunya pemilahan isu-isu mana yang segera dan penting untuk ditetapkan sebagai prioritas.
Menurut Pak Gatot, dari isu isu yang disampaikan sudah saat ini sudah menggelinding. Terhadap isu-isu yang sudah menggelinding tersebut, bagaimana bagaimana supaya beloknya tidak terlalu jauh ( Tora, gambut, Revisi UU ), KPH termasuk yang banyak masalah, kemudian kebijakan mengenai HHBK. Selain itu dalam aspek penguatan organisasi, pada posisi yang demikian mestinya akademisi juga ikut bersuara.
.[/padding]
[padding top=”0″ bottom=”0″ right=”5%” left=”5%”]
Isu Kebijakan
- Tanah Objek Reforma Agraria (TORA)
- Reforma Agraria
- Perubahan iklim
- Akses manfaat masyarakat sekitar hutan.
- Revisi Undang-Undang Agraria
- Peran Rimbawan
- Peta Indikatif penundaan pemberian izin baru
- Permasalahan KPH
- Kebijakan HHBK
- Masa sepan Perhutani
- NDC
[/padding]
[padding top=”0″ bottom=”0″ right=”5%” left=”5%”]
Bidang Pengkaderan dan Hubungan Antar Lembaga
Mas Gladi membuka dengan permohonan maaf karena anggotanya belum ketemu untuk membahas program, terkait pengkaderan menurutnya perlunya sekretariat, pembuata kartu anggota dan data base. Sedangkan mengenai penguatan oraganisasi perlunya pendanaan dari tiap angkatan sesuai dengan keputusan munas. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mekanismenya nanti.
Sementara, Mas Adit menekankan pentingnya inventarisasi SDM kagamahut, terutama merangkul kader-kader di luar KLHK. Karena banyak yang bergerak disektor lain seperti perbankan dan lain-lain.
Bung Tony, lebih menyorot pada pola pengkaderan. Idealnya pengkaderan ada yang mengkader dan dikader, sementara ini tidak jelas bagaimana hal tersebut dilakukan. Hal lain adalah mengenai pembentukan karakter kagamahut ini mau dibenteuk seperti apa, sementara ini belum jelas.
Menurut Pak Hartono, karakter yang bermacam-macam itu baik yang terpenting adalah soliditas dari masing-masing kagamhut.
Bu Dyah menyoroti data base dan kemandirian organisasi. Menurutnya, database itu ada hanya belum dimanfaatkan dengan baik. Perlu adanya atau ditunjuknya coordinator tiap angkatan untuk merespon tuntutan terhadap kemandirian organisasi. Sebagaimana diamanahkan dalam munas bahwa setiap angkatan diwajibkan menyumbang untuk organisasi.
Pak Yuli Hayono, memberikan pandangan tentang pentingnya pengkaderan. Pengkaderan 3 tahun kedepan sangat penting. selama ini, pengkaderan sering menjadi persolan.
Mbak Dewi memberi masukan agar ada kegiatan/aktivitas untuk membangun soliditas alumni. Mas Radian menyampaikan bahwa modal sudah banyak yang penting adalah konsolidasi dengan pengurus kagamahut di daerah-daerah.
Bu Ayu melihat bahwa komunikasi sekarang lebih semarak di Medsos terutama WA. Ini peluang bagaimana mengotimalkan medsos. Sedangkan terkait dengan pengkaderan agar alumni memberikan kuliah di kampus untuk membuka wawasan mahasiswa kehutanan. Hal ini perlu juga dikomunikasikan dengan kampus.
Yang sangat penting juga adalah membangun komunikasi lintas angkatan : antara Pengurus Pusat/ senior di daerah . Publisitas kagamahut belum ada, padahal Jaringan di media ada. Sangat strategis untuk membangun komunikasi ke luar. Kebutuhan yang penting dalam strategi keluar adalah adanya list stakeholder missal nya : di DPR (Pak Ananto, Pak Darori); di Media ( arifin) dan lain-lain.
Mas Gladi mengusulkan perlunya dibuat media aktualisasi dan komunikasi apakah berbentuk portal atau app. Pengalaman di organisasi lain kuncinya adalah personil yang bisa dan intens mengerjakan itu.
Pak Hartono menambahkan, bahwa bahan sangat banyak, di BRG, ditempatnya pak Gatot, pak Agung, dll hanya memang butuh diolah. Anaka-anak muda diharapkan dapat menuangkan kreasinya. Mbak Dewi menambahkan bahwa kalau ada aktivitas atau kegiatan, publikasi akan lebih mudah.
Diakhir sesi , Mas Salis mengangkat perlunya PP Kagamahut mempunyai sekretariat yang berisi kontak person di masing-masing organisasi (KLHK) untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi.
Rembugan diakhir dengan kesepakatan untuk bertemu kembali minggu depan dengan tuan Rumah Pak Gatot Subiyantoro.




















