KAGAMAHUT RIWAYATMU KINI ? MENANTI STRATEGI ADAPTASI MEMENANGI KONTESTASI*

KAGAMAHUT RIWAYATMU KINI Setengah bulan telah berlalu. Pasca hiruk – pikuk perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Fakultas Kehutanan (Kagamahut) kembali senyap. Lagi-lagi bussines as usual. Ibarat TNI kembali ke barak. Ibarat satwa masing-masing kembali ke habitatnya. Termasuk kembali pada tradisi psiko dan sosio kultural masing-masing anggota.

Bisa jadi keliru memandang. Apalagi memaknai. Setidaknya demikianlah yang terlihat. Belum ada geliat apalagi mobilisasi atas agenda tertentu. Meskipun di WAG Kagamahut obrolan dan diskusi terus berlangsung. Gayeng. Walau kebanyakan hal remeh temeh. Tidak banyak yang berbobot dan bernilai substansial.

Namun, semua tak bisa menutupi fenomena. Apalagi menghapus realita. Penilaian yang mengemuka. Bahwa, sebagian besar anggota Kagamahut tengah menghadapi kegalauan. Dicekam rasa “gelo.” Kekecewaan atas situasi sosial politik –kehutanan- pasca pengumuman Kabinet Indonesia Maju. Jujur harus diakui berkembangnya suasana batin seperti ini mendominasi komunitas Kagamahut.

Rasa gagap menyergap. Semua seragam menunggu titah. Menanti gerakan sekaligus gebrakan Ketua Umum. Bukan saja soal program kerja. Cerminan hendak kemana bandul organisasi Kagamahut akan berayun dan berlabuh. Tentu yang tak kalah gaduh. Soal siapa duduk dimana dalam kepengurusan.

Lebih dari itu. Sebagai sebuah entitas kelembagaan yang basis kepentingannya adalah politik kelembagaan KLHK, maka kunci keberhasilan lembaga akan diukur pada bagaimana keberhasilan Ketua Umum mampu melakukan terobosan – terobosan politik. Tentu bagi terwujudnya segenap “kepentingan” anggotanya. Ditengah modernisasi dan globalisasi, Kagamahut masih dilandasi karakter kuat. Mewarisi tradisi kesempurnaan interaksi “patron client”.

LENGAH DAN MISKIN STRATEGI

Euforia itu tampak nyata. Betapa kemenangan terpilihnya kembali sang petahana menjadi RI-1 membuat semua melayang. Kembali berkuasanya sang rimbawan menguatkan mitos-mitos yang selama ini berkembang. Semua mabuk kepayang. Padahal sikap kritis wajib dijaga. Pertanyaan retoris hingga gugatan kritis yang mengemuka sangat sederhana. Apatah Manggala Satu sudah pasti aman ?

Sinyal yang –secara eksplisit maupun implisit- telah disampaikan dalam berbagai tulisan. Walau sama sekali tak berbalas. Bahkan dinilai culas. Hingga seringkali menuai hujatan sangat pedas. Dituduh beralas kepentingan ganda. Alias aliansi bermuka dua.

Jujur. Tidak banyak rimbawan yang paham psiko dan sosio kultural sang rimbawan RI-1. Yang dominan adalah rimbawan yang mengaku merasa dekat atau bahkan mengklaim paling dekat –secara fisik- dengan sang petahana. Padahal, realitas yang mengemuka adalah sebagian besar rimbawan Gadjah Mada –bahkan rimbawan nasional- GAGAL PAHAM akan psiko dan sosio kultural Sang RI-1. Tercermin dalam ketidakpahaman akan konsep TRISAKTI dan NAWA CITA. Apalagi mampu mengimplementasikannya.

Umumnya rimbawan gagal memahami visi Sang RI-1 dalam mewujudkan konstitusi melalui pembangunan RI. Termasuk implementasinya di sektor kehutanan. Lagi-lagi, walau telah dijabarkan secara sangat kasat mata melalui konsep TRISAKTI dan NAWACITA. Namun jujur harus diakui. Sekali lagi. Semua GAGAL PAHAM. Tidak mampu memahami apalagi memaknai visi dan misi Sang RI-1.

Bila gejala GAGAL PAHAM ini terjadi pada periode lima tahun pertama, bisa dinilai “wajar”. Namun bila GAGAL PAHAM rimbawan (baca : Kagamahut) kembali terulang di periode kedua kepemimpinan Sang RI-1, maka tentulah hal itu bisa dikatakan sebagai “kurang ajar”. Dan, itulah realita yang tersiar. Jelas secara politik hal itu memang bukan tindakan makar. Namun itu adalah pembangkangan terbesar.

Dampak atas sikap GAGAL PAHAM di atas sangatlah jelas. RI-1 tidak pernah memberi ruang, apalagi dukungan terhadap politik perkubuan yang hanya saling berebut kekuasaan. Bahkan jauh lebih sempit. Tak lebih dari sekedar jabatan.

Sementara Sang RI-1 sendiri sangat dikecewakan dengan kinerja birokrasi rimbawan. KLHK dinilai lamban bahkan menghambat. Tidak berani mengambil resiko. Dan karenanya gagal mengeksekusi berbagai peluang investasi. Sesuatu yang selama ini menjadi kerinduan sekaligus harapan Sang RI-1. Anak kandung dari keluarga besar rimbawan.

Makna-makna simbolik dari tradisi organisasi paguyuban sesungguhnya telah lama ditinggalkan –karena tidak mendukung value modernisasi dan globalisasi- oleh Sang RI-1 sejak menjelma menjadi negarawan. Hal itu tak bisa diikuti para rimbawan Kagamahut. Termasuk juga rimbawan-rimbawan dari padepokan lainnya

Pada akhirnya, sikap gagal paham juga berdampak secara internal Kagamahut. Ia miskin strategi. Bagaimana membangun relasi konstruktif. Membangun negosiasi kepada sang RI-1 atas dukungan -sosial politik dan kultural- Kagamahut –yang sangat signifikan- dalam upaya mewujudkan visi dan misinya. Khususnya di sektor kehutanan. Alih-alih Kagamahut menjadi “client” dan Sang RI-1 sebagai “patron”. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia menjadi problem yang menjelma menjadi beban bagi kinerja dan citra diri Sang RI-1.

REORIENTASI STRATEGI LIMA TAHUN KE DEPAN

Percayalah, waktu tak akan pernah kembali. Globalisasi dan seluruh sistem tata nilainya telah menjadi keniscayaan. Tidak bisa dihindari apalagi dilawan. Teknologi informasi dan komunikasi telah menjebol batas-batas fisik negara dan komunitas. Bahkan yang paling kuat sekalipun. Bagi yang ngeyel, akan terdisrupsi dengan sendirinya.

Ya, sistem dan nilai modernisasi bahkan post modernism memiliki mekanisme alamiahnya sendiri. Untuk tegas menghukum siapapun yang tidak taat asas. Apalagi membangkang.

Tidak perlu kecewa apalagi menyesali atas apa yang telah terjadi. Yang mutlak harus dilakukan rimbawan (Kagamahut) adalah melakukan perubahan konstruktif dan adaptif di sektor kehutanan. Agar tidak menjadi gerbong usang. Akhirnya akan ditinggalkan penumpang. Atau bahkan ketinggalan kereta.

Sang RI-1 berkewajiban mewujudkan konstitusi. Itu adalah amanat yang wajib ditunaikan. Ditengah arus deras globalisasi. Ditengah tekanan perubahan lingkungan strategis. Di tingkat domestik maupun internasional.

Salah satu yang harus dilakukan adalah meninggalkan kontestasi pilpres. Hal ini penting. Betapa masih banyak rimbawan yang “baper” dengan proses penyusunan Kabinet Indonesia Maju. Yang menyatukan antara kubu 01 dan kubu 02. Menyatukannya dalam sebuah biduk yang sama dengan tujuan pelabuhan yang sama.

Pembangunan perlu soliditas agar seluruh waktu, tenaga, pikiran dan daya upaya bisa sepenuhnya difokuskan pada upaya penyelesaian masalah – masalah besar. Pencapaian target – target raksasa. Menuju visi Indonesia 2045.

Bila ditengah besarnya cita-cita, masih disibukkan dengan hal remeh – temeh oleh orang-orang yang hanya sekelas kutu kupret, akan sangat mudah bagi musuh-musuh Indoensia –beserta para kompradornya- untuk menjegal dan menggagalkannya. Itulah –setidaknya- yang terjadi selama 21 tahun pasca reformasi. Indonesia dibajak oleh sistem demokrasi prosedural. Yang memberi panggung gaduh lagi dangkal bagi hegemoni oligraki para elit. Digerpol para parpol.

Kontestasi tetaplah sangat penting. Hidup identik dengan kontestasi untuk memenangi kehidupan itu sendiri. Kontestasi yang baik adalah kontestasi yang positip. Dengan cara-cara yang konstruktif. Penuh dengan nilai-nilai sportif, dilandasi kompetensi, dan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan produktif.

Di tengah globalisasi yang sarat dengan kontestasi, Kagamahut perlu melakukan reorientasi strategi lima tahun ke depan. Kagamahut harus memperjelas dan memastikan bahwa seluruh operasionalisasi kelembagaannya tidak boleh mengusung visi dan misi sendiri. Kagamahut harus menjadi bagian dari visi dan misi Kagama sebagai organisasi payungnya. Juga sesuai dengan visi dan misi Sang RI-1. Pembangunan nasional.

Reorientasi strategi Kagamahut dalam lima tahun ke depan setidaknya harus diletakkan pada hal-hal mendasar sebagai berikut.

PERTAMA. Visi dan misi Kagamahut harus lebih mengedepankan pada keberadaan dan peran organisasi secara nyata, terukur dan terlibat langsung dalam membantu dan mendukung terwujudnya target – target Pemerintah RI. Meliputi peningkatan SDM unggul, peningkatan investasi bagi terciptanya lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan berbasis pengembangan dan penguatan peran UMKM.

KEDUA. Struktur organisasi dan infrastruktur kelembagaan Kagamahut yang lebih sederhana dan seimbang dengan kedudukan personalia yang lebih beragam. Mengedepankan peran rimbawan muda potensial dari sisi kompetensi dan pengalaman. Tidak didominasi personalia atas dasar kesamaan latar belakang kelompok profesi dan institusi tertentu. Harapannya, Kagamahut bisa mengambil posisi dan peran yang bersifat “beyond forestry”. Kagamahut bisa mendukung program ketahanan pangan dan energy, penguatan infrastruktur yang menghubungkan desa dan sektor yang remote area, mendukung wisata alam dan wisata kehati sebagai sektor unggulan dan sebagainya. Hal ini harus benar-benar diwujudkan secara terstruktur, sistematis dan massif. Bukan hanya sebatas konsep di atas kertas.

KETIGA. Penyusunan program kerja dan agenda kegiatan yang benar-benar bisa dilaksanakan secara berkelanjutan dengan dampak walaupun kecil namun bersifat nyata. Untuk itu program kerja bisa dibuat lebih sederhana, aplikatif, mandiri, membumi dan berkelanjutan. Kredo “small is beautiful” bisa dimanfaatkan untuk upaya ini.

KEEMPAT. Memanfaatkan secara konstruktif relasi sosial politik Kagamahut (baca : relasi Ketum dan elit Kagamahut) dalam payung Kagama, terutama relasi dengan anggota Kagama yang duduk di jajaran Kabinet Indonesia Maju dan kader-kader Kagama yang duduk di lembaga tinggi negara lainnya. Ingat : manfaatkan dengan baik dan bijak era Kagamahut. Dalam seratus tahun belum tentu akan ada siklus yang berulang.

KELIMA. Membangun kerjasama yang konstruktif dengan paguyuban kehutanan dari padepokan lain untuk membangun kebersamaan. Kontestasi tidak boleh menyebabkan buruknya relasi yang bisa berdampak terhadap perubahan pola interaksi antar organisasi. Dari relasi “win win solution” menjadi “zero sum game”. Perang saudara antar rimbawan yang kontraproduktif harus dibasmi dan ditumpas habis. Semua harus didasari pada kontestasi berbasis profesionalisme dan kompetensi individu rimbawan. Bukan kontestasi model Asal Ibu Senang dan sesat pikir dalam bentuk politisasi padepokan sempit dan saktarian.

KEENAM. Kagamahut tidak boleh “baper”, yang berujung pada sikap “conflict of interest”. Khususnya dalam mewujudkan agenda reformasi birokrasi. Harus diakui, sebagian besar elit Kagamahut adalah birokrasi (KLHK) itu sendiri. Karena itu, tidak boleh Kagamahut menyimpan apalagi menyembunyikan agenda tersendiri dan tersembunyi. Bila Kagamahut melawan arus deras tuntutan perubahan reformasi birokrasi, maka Kagamahut akan membawa kutukan sekaligus beban sejarah yang tak akan terhapuskan. Sebuah paradoks dahsyat. Rimbawan Fahutan UGM menorehkan tinta emas menjadi Sang RI-1 selama dua periode. Namun organisasi rimbawan Fahutan UGM (baca : Kagamahut) justru menorehkan tinta hitam pembangkangan.

PENUTUP

Berada di puncak, namun tidak merasakan bahkan menikmatinya. Memang pahit. Kagamahut harus belajar dan mau berubah atas kegagalan dalam memanfaatkan momentum keemasan rimbawan Fahutan UGM sebagai pemimpin politik tertinggi NKRI. Sang RI-1.

Masih ada kesempatan di sisa waktu. Memanfaatkan era keemasan Kagama. Yang kini menduduki berbagai posisi penting di berbagai kementerian dan lembaga NKRI. Pusat maupun di daerah.

Kagamahut periode masa bakti 2019 – 2024 harus segera mengambil peran dan berpartisipasi aktif memenuhi panggilan sejarah untuk memajukan sektor kehutanan. Bahkan “beyond forestry”, meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memajukan negara dan bangsa Indonesia. Mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional NKRI. Visi Indonesia 2045. Indonesia yang maju, berdaulat, adil dan makmur.

Wahai Kagamahut. Jangan terlalu lama terlena. Apalagi berleha – leha. Yang justru akan menyebabkan kembali lengah. Segera rapatkan barisan. Memperkuat kebersamaan. Tinggalkan nilai nilai lama yang tidak produktif bagi kemajuan organisasi.

Kini saatnya menentukan pilihan. Berubah untuk berkembang dan memenangi kontestasi dengan segenap keunggulan SDM. Atau kukuh bertahan namun akan mati karena terdisrupsi. Apapun pilihannya, anda semua tengah menulis sejarah tentang riwayat Kagamahut kini dan ke depan. Demi menjawab sebuah pertanyaan yang melegenda. Quo vadis Kagamahut ?

*Naskah ini bagian dari penulisan buku berjudul “Jokowi : Rimbawan Pasca Kayu” yang Insya Allah akan segera terbit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *