Belum lama ini saya diminta membantu Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Menjadi salah satu anggota dewan juri. Pada ajang Lomba Karya Tulis (LKT) siswa – siswi kelas XII. Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan (SMKK) Negeri lingkup BP2SDM, KLHK.
Meski bukan yang pertama, namun kegiatan ini memberikan pengalaman luar biasa. Bukan hanya menarik. Namun juga mencerahkan. Melihat, merasakan dan menilai kapasitas “melek” baca dan tulis para milenial. Generasi rimbawan muda. Tentu -sedikit banyak- mereka akan ikut menentukan “nasib” keberlanjutan kelola hutan di masa depan.
Seriuskah ? Tentu saja.
Bagaimanapun ide dan gagasan yang disampaikan para rimbawan belia siswa SMKK di atas tidak bisa dianggap “ecek ecek.” Apalagi remeh temeh. Bayangkan, siswa SMKK bisa mensintesa kohesi sosial diantara mereka dengan menggunakan konsep “grand theory” solidaritas organik ala Emile Durkheim (1858-1917). Atau fenomena pendidikan semi militer dan implikasinya terhadap karakter disiplin siswa SMKK. Ada juga yang memanfaatkan teknik ukur theodolite untuk meluruskan arah kiblat masjid-mesjid seputar kampung mereka. Sangat keren. Dan luar biasa tentunya.
Ide mencerminkan konstruksi cara berpikir. Dalam jangka panjang membentuk pola perilaku (Skinner. 1953 dalam Notoatmojo. 2003). Termasuk mengembangkan spirit loyalitas dan komitmen kuat terhadap hutan dan kehutanan. Sebuah refleksi atas kuatnya obsesi dalam mencari solusi persoalan-persoalan kehutanan klasik namun selalu kontekstual. Keadilan distribusi ekonomi sumberdaya alam. Lompatan budaya dan perubahan sosial komunitas. Termasuk ancaman kelestarian kehati dan lingkungan hidup.
Lebih jauh, jangan pernah menyepelekan sebuah Ide atau gagasan. Sekecil dan sesederhana apapun. Ide dan gagasan sesungguhnya merupakan cikal bakal yang menjadi sumber pemikiran. Berkembang membentuk pondasi. Menciptakan konstruksi nilai-nilai budaya. Bahkan berperan penting dalam membangun sebuah peradaban.
Tulisan ini akan berbagi fenomena LKT SMKK Negeri 2020. Yang perlu digaris bawahi. Baik analisis maupun kesimpulan yang diambil, sepenuhnya bersifat pribadi. Karenanya sepenuhnya menjadi hak intelektual sekaligus tanggung jawab moral penulis.
Peta Peserta LKT
Di seluruh Indonesia terdapat 31 SMKK negeri maupun sawsta. Dari jumlah tersebut, hanya ada 5 SMKK Negeri yang pengelolaannya berada di bawah kewenangan BP2SDM, KLHK. Kelima SMKK Negeri tersebut berlokasi di Pekanbaru, Kadipaten, Samarinda, Makassar dan Manokwari. Jumlah siswa kelima SMKK itu saat ini 1,416 orang. Khusus jumlah siswa kelas XII sebanyak 466 orang (Pusdiklat. 2020).
Dalam rangka kebijakan social distancing, seluruh siswa kelas XII SMKK Negeri di bawah BP2SDM KLHK dipulangkan. Selanjutnya diminta belajar di rumah masing-masing. Untuk mempertahankan semangat belajar siswa, BP2SDM menyelenggarakan Lomba Karya Tulis untuk siswa kelas XII. Pusdiklat Kehutanan Gunung Batu, Bogor, bertindak sebagai panitia pelaksana.
Dari total siswa kelas XII yang berjumlah 446 orang, disaring secara internal oleh masing-masing SMKK. Maka, diperoleh 104 karya tulis pilihan. Terbagi ke dalam 4 jurusan. Jurusan Teknik Inventarisasi Pemetaan Hutan (TIPH) 23 orang (22 %). Jurusan Teknik Konservasi SDH (TKSDH) 20 orang (19 %). Sementara jurusan Teknik Produksi Hasil Hutan (TPHH) 24 orang (23 %). Terakhir, jurusan Teknik Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan (TRRH) 37 orang atau 36 % (Nugraha. 2020).
Parameter yang dinilai meliputi 5 kriteria yang diturunkan menjadi 8 indikator utama. Meliputi (1) format penulisan, (2) orisinalitas ide/gagasan, (3) penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, (4) kesesuaian pustaka dan dukungan pengalaman empirik, (5) keterkaitan dan relasi antar substansi, (6) kemampuan sintesa dan analisis kesimpulan, (7) kelayakan penerapan rekomendasi, serta (8) manfaat bagi dunia pendidikan dan masyarakat umum. Saya pribadi menambahkan indikator keberadaan nilai human interest. Sehingga total menjadi 9 indikator.
Hasilnya. Sebanyak 12 karya tulis (12 %) masuk kategori SANGAT BAIK (range skor 451-500). Sementara 35 naskah (34 %) tergolong BAIK (range skor 351-450). Sejumlah 35 tulisan (34 %) meraih nilai CUKUP (range skor 251-350). Tercatat 20 karya tulis (19 %) masuk kelompok BURUK (range skor 151-250). Hanya 2 orang (2 %) berkualifikasi SANGAT BURUK (range skor <150).
Penyimpangan Konstruktif ?
Dari seluruh naskah, terdapat sebuah fakta menarik. Ternyata hanya 64 siswa (62 %) membuat karya tulis sesuai jurusan pendidikannya. Sementara, sebanyak 40 siswa (38 %) memilih menulis “menyimpang.” Maksudnya, menulis diluar bidang keahlian yang menjadi jurusan pendidikannya.
Dalam konteks ilmu pasti. Menyimpang karena keluar jalur sudah pasti memperoleh stigma buruk. Dalam ranah industri bisa dikatakan cacat produksi. Alias produk gagal. Tidak demikian dalam konteks sosial. Menyimpang tidak selalu identik dengan buruk. Apalagi gagal.
Menyimpang, dalam konteks sosial justru seringkali menunjukkan keberagaman fenomena. Kemampuan memaknai sesuatu dengan kacamata berbeda. Cara pandang baru. Pun, seringkali memberikan hasil yang tak terduga. Bisa jauh lebih baik. Dibanding yang tidak menyimpang alias normal.
Bagaimana bisa ? Mari kita bedah lebih dalam.
Naskah dengan kategori hasil penilaian di kutub tertinggi, yaitu SANGAT BAIK yang ditulis sesuai jurusannya hanya ada 5 buah (5 %). Sebaliknya, hasil penilaian atas naskah yang menyimpang atau tidak sesuai dengan jurusan yang berkategori SANGAT BAIK sebanyak 7 naskah (7 %). Ternyata jumlah naskah yang menyimpang dengan hasil SANGAT BAIK lebih banyak dibanding yang sesuai jurusannya (Ibid).
Kedua, naskah hasil penilaian yang masuk kategori SANGAT BURUK yang sesuai jurusannya terdapat 2 peserta (2 %). Sementara naskah menyimpang yang bernilai SANGAT BURUK justru tidak ada. Untuk naskah dengan kategori BAIK, CUKUP dan BURUK jumlahnya masing-masing relatif berimbang. Bersifat proporsional.
Bagaimana memaknainya ? Bisa jadi, menulis sebuah tema yang tidak bersifat teknis, jauh lebih inspiratif. Bahasanya pun lebih hidup dan mengalir. Faktor lain, menulis fenomena keseharian yang bersifat umum (baca : tidak khusus alias teknis), tentulah memiliki nilai human interest yang jauh lebih kaya. Sangat provokatif, nyata dan reflektif. Penuh sentuhan batin. Terakhir, menulis diluar keahliannya tentulah merupakan sebuah fenomena yang out of the box.
Artinya, menulis diluar keahlian tentu saja membutuhkan kemampuan memaknai realitas yang hidup. Termasuk syarat keberanian mengambil dampak dan resiko. Lebih kontekstual secara sosial, ekonomi dan budaya. Pada akhirnya terbukti. Naskah yang memiliki kategori nilai SANGAT BAIK jumlahnya lebih banyak dibanding tulisan naskah yang sesuai jurusan dan keahlian.
Penutup
Kompetensi menulis siswa SMKK sangat penting. Mencerminkan kreativitas sekaligus kemerdekaan dan kebebasan berpikir. Kemampuan sintesa dan ketrampilan analitis secara kritis. Sesuai dengan kompleksitas kehutanan yang multi dimensi. Faktanya, minat menulis siswa SMKK tidak selalu identik dengan issue atau tema jurusan yang bersangkutan. Banyak diantara karya tulis yang dilandasi fenomena sederhana. Pragmatis dan bersifat keseharian. Namun sarat dengan nilai human interest.
Berkaca hasil penilaian karya tulis, sebuah tulisan yang baik memiliki beberapa karakter dasar. Pertama, kuatnya pemahaman ide dan gagasan yang hendak ditulis. Kedua, kemampuan sintesa pustaka yang mencerminkan kemampuan “melek” baca dan tulis. Ketiga, penulis memiliki pengalaman empiris. Resultante ketiganya membuat sebuah karya tulis bernyawa. Hidup. Tersebab bernuansa dialogis dengan pembacanya.
Pertanyaannya, apa program prioritas SMKK ke depan ?
Dalam jangka pendek, sangat perlu diupayakan peningkatan kultur dan tradisi literasi. Usulan paling konkrit melalui penyelenggaraan program peningkatan intelektual. Kompetensi “melek” baca dan tulis handal. Targetnya selain mendongkrak kompetensi literasi siswa. Sekaligus mengatasi disparitas. Seraya membangun standardisasi literasi antar siswa maupun antar SMKK. Termasuk para guru SMKK. Jangan-jangan para pendidik SMKK sendiri juga inkompeten dalam dunia literasi. Bagaimana mungkin para guru yang inkompeten bisa mendongkrak kompetensi siswa ?
Karena itu, ajang kegiatan LKT SMKK seyogyanya diselenggarakan secara rutin dan berkelanjutan. Diperluas juga untuk para guru SMKK. Bekerjasama dan dikaitkan dengan issue dan momentum tertentu. Misalnya dalam rangka Hari Bakti Rimbawan, memperingati Hari Lingkungan Hidup, memaknai Hari Bumi dan sebagainya.
Dalam jangka menengah, perlu dipertimbangkan penambahan mata pelajaran di rumpun keahlian humaniora. Yang banyak menyumbangkan kompetensi dan memperkuat tradisi literasi siswa. Hal ini bisa dilakukan sekaligus sebagai antisipasi jangka panjang. Peluang pendirian satu jurusan baru di lingkup SMKK. Jurusan Teknik Rekayasa Sosial Hutan (TRSH).
Sudah lama kehutanan kering akan literasi. Konon, terlalu terjebak pada hal-hal teknis. Strategi untuk mendongkrak kultur literasi siswa SMKK antara lain melalui perbanyakan ilmu-ilmu humaniora. Yang akan mampu mengasah sensitivitas sosial dan empati siswa. Baik kepada masyarakat, satwa dan tumbuhan. Bahkan bentang alam semesta beserta seisinya.
Kinilah saatnya rimbawan dan kehutanan membangun tradisi literasi yang kokoh kuat. Abadi menyejarah. Ingat kata bijak penulis besar kita, Pramoedya Ananta Toer. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”
Karena itu, dalam hidup ini cuma satu yang harus ada, yaitu keberanian. Keberanian menulis !!! Bila tidak. Quo vadis ? ***



















