Murdiono : Walaupun Besok Kiamat, Kalau Kita Pegang Bibit maka Harus Kita Tanam

Dalam rangka pembekalan terhadap mahasiswa baru,  Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada mengadakan kegiatan  Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru (PPSMP) PELESTARI tahun 2017 dengan tema “Eksistensi Rimbawan sebagai generasi Pelestari dalam menjawab dinamika kehutanan”. Acara yang diselenggarakan tanggal  9 Agustus 2017 di Auditorium Fakultas Kehutanan ini menghadirkan pembicara dari alumni Fakultas Kehutanan yang inspiratif dan entepruenur. Salah satunya adalah pembicara dari Dr. Murdiyono, alumni Fakultas Kehutanan UGM angakatan 1979. Di hadapan sekitar 240-an mahasiswa baru Fakultas Kehutanan, beliau menyampaikan wejangannya sebagai sangu bagi mahasiswa baru yang akan ngudi kawruh sebagai rimbawan di Fakultas Kehutanan UGM.

Dr, Murdiono lahir di Sukoharjo, 31 Maret 1961. Memulai karir sebagai birokrat di BIPHUT Sintang Kalimantan Barat ( 1985-1991), dan pernah pula bekerja di BUMN PT INHUTANI III sebagai Kepala Biro dan  Sekretaris Dewan Komisaris PT INHUTANI III (1994-2004). Sekarang menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pak Mur demikian beliau sering disapa, bukanlah berasal dari keluarga yang berprofesi  rimbawan atau  bekerja di bidang kehutanan. Sukoharjo,  tempat kelahirannya,  bahkan tidak ada hutan.  Mengapa Pak Mur (sapaan beliau) memilih rimbawan sebagai profesi ? Bagimana bisa sukses meniti karir sebagai rimbawan dan dan apa  tantangan sektor kehutanan apa yang dihadapi sekarang?.

Rimbawan sebagai Profesi

Setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri dalam memilih profesi yang ingin ditekuninya. Termasuk memilih jalur rimbawan sebagai profesi. Terkadang pula pilihan masuk di Fakultas Kehutanan adalah oleh karena pilihan yang realistis. “Jujur saja karena masuk Fakultas Kehutanan relative lebih mudah dari pada Kedokteran Umum. Makanya kalau ditanya kuliah dimana? Selalu dijawab KU, maksudnya Ka-Utanan (kehutanan), supaya lebih pede” Jadi sebetulnya pilihan kuliah di jurusan atau fakultas  apa juga tidak terlalu penting. Tetapi apabila sudah masuk di Fakultas Kehutanan harus fokus.

Banyak lulusan Fakultas Kehutanan UGM yang sukses bukan di sektor  kehutanan. Ada yang di Kemkeu, Bappenas, ada juga yang pengusaha,  ada yang diperdagangan dan lain-lain. Sukses di luar habitat ! Contohnya,  ada rimbwan yang sukses karirnya di Kementerian Keuangan. Sebut saja namanya Untarto Wibowo  (Angk 1983) yang menjadi pejabat eselon II di Kementerian Keuangan. Pencapaian tersebut bahkan melebihi dari kawan-kawannya yang bekerja di Kementerian Kehutanan.

Demikian pula sebaliknya, seorang Menteri Kehutanan tidak harus dari lulusan Fakultas Kehutanan, bisa dari lulusan yang lain. Bahkan seorang Presiden-pun juga tidak harus lulusan dari Sospol  yang dianggap lebih memahami politik. Seorang rimbawan-pun bisa jadi Presiden. Kunci kesuksesan itu terletak pada diri orang itu sendiri-sendiri dan  dukungan dari orang lain.

Kuliah dan bekerja adalah hal yang berbeda. Terkadang waktu kuliah pandai tapi karirnya tersendat. Yang paling penting apabila kuliah,  pastikan bahwa waktu kuliah ilmunya dipahami. Indeks Prestasi  (IP) yang tinggi juga bukan suatu jaminan yang mutlak. Thomas J. Stanley  bahkan mengatakan bahwa terhadap karir seseorang, IP menempati urutan ke-23. 10 sikap yang yang berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang adalah (1) jujur (honesty); (2) disiplin (discipline); (3) kemampuan diri yang baik, pandai bergaul (good interpersonal skill);(4) dukungan dari pasangan hidup; (5) bekerja lebih keras dari yang lain; (6) mencintai apa yang dikerjakan; (7) kepemimpinan yang baik dan kuat (good n strong leadership); (8) semangat dan berkepribadian kompetitif;(9)  pengelolaan kehidupan yang baik (good life management); (10) kemampuan menjual gagasan dan produk (ability to sell idea and product). Era sekarang arahnya adalah profesionalisme

Tantangan Kehutanan

Apa tantangan dunia kehutanan sekarang?  Peningkatan jumlah penduduk semakin meningkat seperti deret ukur. Menurut Smith, L.C. (2011) terdapat kecenderungan pertambahan penduduk yang cepat setiap tahunnya. Saat ini pertumbuhan penduduk  setiap 6 tahun bertambah sekitar 1 milyar orang, sangat cepat di banding tahun 1800 yang perlu waktu 130 tahun setiap pertambahan penduduk 1 milyar.  Pertambahan penduduk ini juga menuntut ketersediaan pangan yang meningkat.  Mengutip Scientific American Journal, Agustus 2017  bahwa penduduk akan meningkat dari 7,5 milyar menjadi 9,7 milyar penduduk pada tahun 2050, dan petani harus meningkatkan produksi pangannya hingga 70%.  Pertumbuhan penduduk dan kebutuhan pangan tentu akan berpengaruh terhadap luasan hutan oleh karena desakan kebutuhan pangan.  Sehingga, mengutip  Jack Westobi (1967)“Forest  is not (only) about trees, it’s  about people,  and it’s about trees  as long as trees  can serve  the needs of  the people. Kehutanan tidak hanya berbicara mengenai hutan saja tetapi erat kaitannya dengan kebutuhan pangan, energy dan segala macam kebutuhan manusia.

Bagaimana strategi pembangunan Kehutanan? Saat ini 6 strategi pokok yang dikembangkan dalam pembangunan kehutanan antara lain:

  1. Alokasi sumberdaya hutan untuk pemerataan ekonomi (tata perizinan, hutan sosial, pangan, energi, ketahanan air).
  2. Pengendalian deforestasi dan degradasi hutan/lahan (illegal logging, karhutla, peti, tata perizinan, law enforcement, pemulihan lingkungan).
  3. Konservasi dan pemeliharaan bio-diversity dan biosfer (peningkatan dan penanganan tumbuhan dan satwa langka/TSL, serta pemeliharaan dan peningkatan kualitas udara, air dan tanah/bentang alam).
  4. Peningkatan produksi dan produktivitas hutan dan jasa lingkungan (peningkatan usaha produksi kayu, hasil hutan non kayu, ekowisata/jasa lingkungan lainnya, serta peningkatan manajemen usaha rakyat).
  5. Pengendalian kejahatan lingkungan (penataan regulasi, penertiban pengawasan perizinan dan penegakan hukum).
  6. Kemitraan dan keterlibatan multistakeholders dalam rantai usaha sumberdaya hutan.

Kondisi hutan kita sudah sangat kompleks tatangannya. Hutan di Jawa sudah overload, luasan hutannya kurang 20% dari persyaratan undang-undang 30%, itu pun sudah termasuk hutan rakyat. Sehingga sekarang banyak digalakkan program menanam. Hadist nabi mengatakan “Walaupun besok kiamat, kalau kita pegang bibit maka harus kita tanam”. Oleh karena sekarang pemerintah menggalakkan program menanam pohon 25 pohon selama hidup setiap orang, dengan asumsi TK 5 pohon, SD 5 pohon, SMP 5 pohon, SMA 5 pohon dan kuliah 5 pohon. Contoh menarik Di UNS yang  sudah dimulai mewajibkan  mahasiswa untuk menanam 5 pohon, apabila belum menanan dan belum hidup maka ijazahnya tidak akan diberikan. Ini adalah contoh yang baik

Kehutanan tidak hanya terkait dengan pohon  tapi terkait dengan manusia. Hutan baik bila manusia kelaparan maka tidak akan berhasil. Ada tiga pilar dalam pengelolaan hutan lestari yaitu pilar  yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan plasmanutfah dan Pemanfaatan sumberdaya hutan lestari. Dalam pengelolaan hutan lestari maka perlu menselaraskan antara konservasi dan ekonomi. Tidak bisa hanya menekankan pada satu sisi saja. Untuk itu perlu ada sinergi antara pemerintah, masyarakat dan swasta. Akan tetapi yang paling  penting adalah bagaimana kita mengelola sumberdaya alam Indonesia untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *