Sebuah narasi berisi petisi masuk di sebuah WAG. Dengan judul yang sangat gagah berani. Mengatas-namakan rakyat. Diteken atas nama para elit. Beberapa adalah mantan pejabat masa lalu. Berisi pertanyaan bahkan gugatan atas realisasi janji – janji kampanye Presiden Jokowi. Merujuk pada penambahan utang RI. Juga menurunnya angka pertumbuhan ekonomi. Keduanya substansi dinilai sumber ingkar serta meleset jauh komitmen dan janji.
Belum selesai membaca, sebuah narasi dari seorang penulis kembali masuk. Berjudul SAKIT. Sebuah tulisan kritis. Tentang sinisme trias malpraktek politik ekonomi hari ini. Apalagi kalau bukan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah mendarah daging. Dengan tanpa melihat konteks sosial politik dan upaya kerja keras Presiden, sang penulis menggugat berbagai praktek di era pemerintahan yang dinilai menyimpang di negeri ini. Intinya, mengungkapkan kegelisahannya soal ibu pertiwi yang sedang dirundung pagebluk dan beragam tragedi.
Sakit fisik, sesungguhnya tidaklah seberapa. Dengan istirahat dan membangun harapan, penyakit akan mudah dilenyapkan. Sembuh pulih seperti sediakala. Sepanjang mentalitasnya tetap memiliki harapan. Selalu menjaga nalar. Berpikir positip dan rasional. Menjelma menjadi obat paling mujarab. Namun tentulah akan sama sekali berbeda. Tatkala “nalarnya” yang sakit. Apalagi sakit yang sudah merasuk pada mentalitasnya. Tepat. Tiada lain “sakit hati”. Tersebab “penyakit hati”.
Merawat Nalar Menjaga Mentalitas
NKRI tengah sakit. Tak ada yang membantah. Negeri ini tengah terlilit krisis. Pun semua mahfum. Namun cara pandang dan pilihan pendekatan dalam merespon berbagai persoalan kritis yang membuat turbulensi negeri ini, jelas akan memberikan ciri pembeda. Membedakan siapa dan bagaimana kesungguhan kecintaannya pada NKRI. Cinta mati, ataukah cinta abal abal sekedar imitasi.
Tak ada masyarakat di belahan dunia manapun saat ini yang tak menghadapi wabah pandemi. Tak ada negara di belahan planet bumi ini yang tak berjuang melawan krisis multidimensi. Dari ambruknya sistem kesehatan masyarakat beserta sebagian besar infrastruktur medisnya. Hingga porak porandanya perekonomian. Tercermin dari bangkrutnya sektor-sektor ekonomi –transportasi, pariwisata, dan manufaktur- hingga UKM. Ancaman bahkan mulai terjadinya PHK massal. Berlanjut pada minusnya angka pertumbuhan ekonomi.
Bayangkan, situasi berat yang sudah sangat kritis, untuk menyelamatkan diri meminjam kepada yang lain bukanlah sebuah harga mati. Bukan sesuatu yang diharamkan. Karena bersifat darurat. Pun itu juga tidak untuk berfoya-foya. Konsumtif. Seperti halnya “utang najis” pemerintahan di masa lalu. Utang hari ini adalah untuk pembangunan sekaligus penyelamatan bangsa dan negara. Agar napas rakyat bisa diperpanjang.
Faktor kedua, dengan situasi sosial ekonomi yang porak poranda tersebab pandemi, negeri mana yang pertumbuhan ekonominya positip ? NKRI, meski negatip namun masih jauh lebih baik dibanding negeri-negeri lain. Bahkan dibanding pertumbuhan ekonomi sang negara adidaya –Amerika- sekalipun.
Lalu kalau semua fakta global itu dikatakan ingkar janji, bahkan disematkan menjadi sebuah predikat sarkastis “The King of Lip Service” Presiden Jokowi ? Tentu apa hendak dikata. Apalagi yang mengatakan itu adalah kelompok – kelompok generasi penerus. Para pengurus puncak organisasi mahasiswa universitas kelas wahid. Tak lain adalah para elit mahasiswa yang semestinya memiliki nalar “super kritis” dan rasionalitas akal sehat. Selalu harus menjaga nalar. Bukan sekedar untuk imunitas, namun juga rasionalitas.
Soal sakitnya bangsa ini tersebab pandemi. Bukannya pemerintah tidak peduli. Apalagi abai dan lupa diri. Betapa berbagai langkah, mulai dari himbauan hingga upaya tegas sekalipun sudah dilakukan. Namun, para elit “sakit hati” yang tak tahu diri itu lupa bahkan seringkali memanfaatkan situasi. NKRI bukan lagi negeri militer yang otoriter. Bukan pula negeri sosialis komando seperti bangsa-banga komunis. Yang semua bisa diberangus sampai ke akar akarnya.
Banyak warga masyarakat yang meyakini covid -19 tak lebih dari konspirasi negara. Beserta anteknya. Tidak benar-benar yakin bahwa pandemi covid itu ada. Sehingga selalu abai terhadap prokes yang telah ditetapkan. Menjadi sebuah kultur baru. Disebut “new normal”. Masyarakat tetap memiliki keyakinan sendiri. Beda tipis antara meyakini virus itu ada dan tiada. Namun tatkala teman dekat, bahkan anggota keluarga terkena. Bahkan dengan sangat memilukan harus kehilangan nyawa, barulah semua berhenti berulah. Walau situasi dan kondisi sudah darurat tersebab telah relatif sangat parah.
Membiarkan narasi sesat pikir, jelas mengorbankan kepentingan yang lebih besar. Menahan dan menangkap satu dua elit sakit hati, tentulah juga bukan perkara mudah. Termasuk sudah pasti resiko dikapitalisasinya pemerintahan otoriter. Presiden diktator. Anti demokrasi.
Betul. NKRI pascareformasi adalah negeri demokrasi. Rakyat bahkan elit bebas berpendapat. Sekalipun seringkali kebablasan karena adakalanya elit dan warganya justru menentang bahkan menghina pemerintahannya sendiri. Sikap a-sosial dan bisa jadi juga a-historis. Seringkali para elit sakit hati justru melawan semua perintah dan himbauan negara. Membuat narasi-narasi tandingan versi sendiri. Yang sedikit banyak justru menyesatkan dan makin menjauhkan dari kohesivitas anak negeri. Mulai dari memproduksi sesat pikir. Menyebarkannnya dalam bentuk hoaks. Hingga secara terbuka atau sembunyi-sembunyi menolak berbagai kebijakan dan program resolusi pemerintah.
Para elit sakit itu melawan dan membangkang dengan konstruksi rasionalitas yang seringkali kontradiktif. Paradoks. Tersebab justru sangat irasional. Namun, semua itu bisa diterima bahkan tumbuh berkembang dengan suburnya ditengah masyarakat -yang masih baper-. Antara lain tersebab belum sepenuhnya kembali menyatu pascapilpres 2014 dan 2019. Rakyat yang masih terbatas tingkat melek literasi dan edukasi sosio politiknya. Bahkan, tatkala kedua rival di tingkat puncak pemimpin –Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno- sudah saling menyatu dan saling membantu menjadi bagian yang satu di pemerintahan, keterbelahan rakyat tetap dijaga. Dengan berbagai narasi politik rendah. Dengan berbagai skenario konspirasi dan teori-teori politik ekonomi yang sulit diterima nalar. Namun bagi masyarakat yang sudah dibutakan justru sangat masuk akal. Akhirnya tanpa diolah justru ditelan mentah. Sesuatu yang menjadi racun nalar sehat dan mentalitas.
Memimpikan politik tinggi –high politic– ala para Bapak Bangsa di masa lampau sungguh muskil di hari ini. Berdebat dan berbeda pendapat demikian keras, namun tetap menyatu pascadebat dan sidang. Bagi para Bapak Bangsa itu, memperjuangkan sesuatu tidak harus menjadikan mereka terbelah. Apalagi saling berhadapan kubu dan menegasikan. Memaksakan kehendak agar semua sama dan seragam.
Lebih jauh, hari ini kondisi memprihatinkan masih sering terjadi. Ketika sebagian membangun konsolidasi dan kerjasama erat mengatasi pandemi, sebagian elit dan pengikutnya justru sebaliknya. Saling melempar narasi dan hoaks menyesatkan. Menjadikan negeri ini kian jauh dari kredo persatuan dan kebersamaan.
Namun demikian, satu yang patut dan harus dibanggakan. Pandemi ini masih menyisakan sikap altruisme para elit waras dan warga komunitas yang masih menjaga nalar. Berbagi sesama. Saling berkorban satu sama lain. Saling mendukung dan membantu. Potret situasi dan kondisi itu jelas memberikan harapan besar. Memperkuat imunitas komunitas.
Penutup
Sakit hati memang penyakit berat. Apalagi kalau selalu dirasa. Selalu muncul dan mengemuka. Obat paling mujarabnya adalah berpikir positip dan bersedia saling memaafkan. Banyak Ustadz dan para Ulama yang mengungkapkan tausyiah bijak itu. Bila sudah terjangkit penyakit hati, sebaik apapun sebuah situasi dan kondisi dimatanya selalu salah. Termasuk yang dialami banyak mantan pejabat yang kini mungkin lupa. Bahwa mereka dahulu pernah duduk di singgasana serupa. Di peraduan menara gading meski berbeda warna. Namun tugas dan tanggung jawabnya kurang lebih sama.
Sesungguhnya, seorang pemimpin justru lahir dari situasi krisis. Bukan saat kondisi normal. Yang tanpa berpikir dan bekerja keras, bisa langsung meraih keberhasilan. Tersebab tak ada tantangan yang menghadang. Barangkali, para mantan pejabat atau para elit yang seringkali menyalahkan itu juga lupa. Tatkala menyalahkan orang lain dengan menunjukkan satu jari telunjuknya ke sang tertuduh, sesungguhnya empat jari lainnya tengah menunjuk kepada dirinya. Ibarat pepatah bijak. Menepuk air didulang, terpecik muka sendiri.
Hari ini. Dalam segala situasi berat dan membebani, memang yang paling mudah mengarahkan telunjuk jari. Seraya menyalahkan para pemimpin. Memvonis gagal. Menilai tak becus. Namun tanpa solusi bagaimana membantu memperbaikinya. Selain hanya caci maki dan sumpah serapah. Sekali lagi, semua itu menunjukkan kualitas diri dan bagaimana rekam jejak yang bersangkutan sesungguhnya. Kata orang bijak, mengapa harus menjadi pahlawan kesiangan ? Konon, tak lain bukan ketulusan perbuatan baik yang diusung. Melainkan sebatas mencari panggung. Mengais kesempatan agar bisa tampil di mimbar agung. Ketahuilah, wahai orang – orang yang tak pernah mau merawat nalar. Orang-orang yang kalau terus menerus tak hendak merawat sikap itu, akan benar-benar kehilangan rasionalitas. Sekaligus mentalitas.
Semoga orang – orang itu segera menemukan kesadaran. Memperoleh pencerahan. Berubah dan kembali berpikir konstruktif hari ini dan untuk periode ke depan. Bersedia mencintai ibu pertiwi dengan ketulusan hati. Membesarkan NKRI dengan segenap nalar. Dengan cara – cara santun sesuai kepribadian dan mentalitas. Penuh pengorbanan demi keberlanjutan NKRI yang tak terbatas. Hingga paripurna tuntas. Semoga***



















